Category Archives: Resensi

Resensi Buku “Mendadak Haji – Catatan Rindu Sang Musafir Haji” Karya Prie GS

mendadak-haji

“Bohong kalau saya tidak gembira diberi kesempatan berhaji. Namun, bohong juga jika saya tidak tegang menghadapinya. Tidak cuma tegang, tetapi juga ada semacam rasa takut.” (halaman ix)

Ketika Pakde Prie GS “berkicau” di laman twitternya,  @Prie_GS, beberapa bulan silam tentang rencana penerbitan buku “Mendadak Haji”, saya jadi penasaran. Selama ini Pakde Prie GS lebih cenderung menulis tentang refleksi dari kehidupan sehari-hari, bukan tentang hal yang berkait dengan religi. Pakde Prie GS memang selama ini lebih dikenal sebagai budayawan.

Walaupun tiga buku beliau telah saya miliki: “Waras di Zaman Edan”, “Tiga Pil Kecerdasan Dosis  Tinggi”, dan “Hidup Bukan Hanya Urusan Perut”, tapi belum satupun yang tuntas saya baca. Bagi saya, tulisan-tulisan Pakde Prie GS bukan tulisan yang bisa dibaca sambil lalu. Butuh konsentrasi khusus agar makna yang tersirat di dalamnya bisa saya pahami dan mampu terekam dalam ingatan. Selama ini saya lebih asyik menjelajahi tweet-tweet beliau, tulisan-tulisan super pendek yang penuh makna.

Setelah buku “Mendadak Haji” sampai di tangan saya akhir November 2013 lalu, buku ini pun kembali teronggok bersama tumpukan buku yang lain. Menghilang dari ingatan, tertutupi oleh kesibukan. Baru 1 Januari kemarin, saya kembali teringat dengan buku ini. Saya jadikan buku ini sebagai pembuka aktivitas membaca saya di tahun 2014.

Ternyata butuh empat hari, untuk melahap 200an halaman yang ada. Memang tidak tebal, tapi seperti yang saya sampaikan di awal tadi, gaya penulisan Pakde Prie GS tidak bisa dinikmati sambil lalu. Kesimpulan awal saya dari buku ini, ternyata gaya penulisan Pakde Prie GS tak berubah. Walaupun mungkin bisa  dikategorikan bergenre religi, tapi buku ini tetap mengambil perspektif sosio kultural – gaya penulisan yang beliau jalani selama ini dengan konsisten, setidaknya itulah yang tampak di mata saya.

Buku “Mendadak Haji” ini dibagi ke dalam 4 bagian: Persiapan menjelang keberangkatan, Kondisi dari berangkat hingga tiba di Madinah, Kegiatan selama di Tanah Suci, dan Perspektif beliau tentang ritual dalam Ibadah Haji. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari semua yang beliau sampaikan. Bagi yang belum pernah berumroh – apalagi berhaji – seperti saya,  buku ini sangat bermanfaat. Karena apa yang disampaikan begitu apa adanya. Suka duka yang dilalui dengan lugas beliau ceritakan di sini. Buku ini dapat menjadi “bekal tambahan” bagi mereka yang ingin berangkat ke tanah suci, selain dari bekal ilmu tentang tata cara ibadah selama di sana.

Yang jelas, selain dari gambaran tentang perjalanan ruhani yang ditempuh, begitu banyak makna hidup yang beliau sebar dalam halaman-halaman buku ini. Itu yang menjadikan buku ini terasa komplit. Lihatlah bagaimana beliau merefleksikan tentang ritual wukuf di padang Arafah. Beliau menyampaikan, ketika wukuf kita laksana debu karena berada di lautan manusia. Namun “debu-debu” ini bukanlah debu yang kotor dan tak berarti, tapi merupakan debu yang ditinggikan oleh Allah. Lebih jauh lagi secara tersurat beliau mengingatkan, bahwa “kebesaran” atau “kekecilan” kita bukan tergantung pada besar kecilnya pekerjaan yang kita lakoni, tapi seberapa jauh nilai-nilai yang dimandatkan mampu kita hayati dan jalani dengan penuh tanggungjawab.

Semoga resensi ini bermanfaat 🙂

Ternyata Harapan Itu Masih Ada..

Beberapa bulan terakhir saya begitu “kecanduan” dengan tulisan pak Dahlan Iskan. Saya kenal beliau pertama dari tulisan-tulisan beliau yang dimuat salah satu penggemarnya di blog http://dahlaniskan.wordpress.com. Kala itu beliau masih menjabat sebagai Dirut PLN. Kini beliau telah setingkat lebih tinggi di pemerintahan, karena sejak 19 Oktober 2011 lalu beliau diangkat menjadi menteri BUMN oleh presiden SBY menggantikan Mustafa Abubakar yang menderita sakit.

Satu demi satu buku beliau saya buru. Maklum, pada umumnya buku-buku tersebut dijual terbatas. Hingga saat ini, telah 7 buku beliau yang saya miliki. “Ganti Hati”, “Hati Baru”, “Menegakkan Akal Sehat”, “Dua Tangis dan Ribuan Tawa”, “Warisan Go Samola”, “Pelajaran dari Tiongkok”, dan “Kentut Model Ekonomi”. Masih ada dua buku lagi yang belum saya punya: “Tidak Ada yang Tidak Bisa” dan “Eka Tjipta Widjaja”. Ada yang berkenan menghadiahi saya?? 😀

Read more of this post

Okuribito, The gift of last memories..

“Jangan pernah meremehkan sebuah pekerjaan”. Ini salah satu pesan yang saya tangkap ketika menyaksikan film Okuribito (“Departures”, dalam bahasa Inggris),  film peraih Piala Oscar tahun ini dalam kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik”. Film yang – menurut saya – sangat sederhana dalam alur dan dialog, namun begitu menggugah hati..

Film ini bercerita tentang seorang pemain cello bernama Daigo Kobayashi. Bermain dalam sebuah orchestra adalah sebuah impian besar dalam hidupnya. Namun setelah hal itu tercapai, ternyata hanya berlangsung untuk sesaat saja. Penampilan perdananya adalah sekaligus yang terakhir. Karena setelah selesai tampil, grup orchestra tempatnya bernaung dinyatakan bubar oleh sang owner. Akhirnya Daigo merubah jalan hidupnya dengan menjual cello kesayangannya itu, dan kembali ke kampungnya untuk tinggal di rumah peninggalan sang ibu..

Read more of this post

Blind Eye, sisi kemanusiaan yang hilang..

Sekitar bulan Oktober 2007 lalu saya berkunjung ke rumah kakak di Jakarta Selatan. Awal kedatangan saya disambut dengan setumpuk buku koleksinya. Memang, beliau paham dengan kegemaran saya membaca buku. Dari sekian banyak buku yang disodorkan, saya tertarik dengan satu novel berjudul “Blind Eye“. Novel terbitan Dastan Books ini diangkat dari kisah nyata tentang seorang dokter yang “dituduh” membunuh puluhan pasiennya (kata “dituduh” diberi tanda kutip, karena hingga ditangkap ia tidak pernah terbukti membunuh seorang pun dari 60 orang yang diperkirakan oleh FBI).

Dua hal yang membuat saya “jatuh hati” dengan novel itu. Pertama, novel itu diangkat dari kisah nyata. Bisa dibilang novel ini adalah biografi dari sang dokter. Walaupun memang, novel ini tidak mengisahkan dari sejak lahir hingga ia mati. Toh, ia masih hidup sampai saat ini. Saya sejak lama senang membaca biografi orang lain, karena saya merasa lebih “nyaman” untuk menyelami pemikiran sang tokoh. Hal yang kedua, novel ini secara tidak langsung menggambarkan tentang sisi kejiwaan dari sang dokter. Hal yang menarik untuk ditelaah. Apalagi untuk kali ini yang digambarkan adalah sisi “psikopat”nya. Puluhan orang mati di “tangan”nya. Hmm.. Saya sering tak habis pikir, bagaimana seseorang mampu “menghabisi” nyawa orang lain dengan sebegitu entengnya, tanpa ada rasa penyesalan..

Read more of this post