Category Archives: Refleksi

Interaksi

“Kesalahan pada orang lain itu ibarat paku yang tertancap. Walaupun sang paku dapat tercabut, namun bekas tancapannya akan selalu ada.”

Sahabat, berinteraksi dengan sesama sudah menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan dalam hidup kita. Begitu banyak bentuk interaksi yang bisa kita lakoni setiap hari. Dari bertemu muka, berbicara lewat sambungan telepon, mengirim pesan singkat, hingga “mention” via social media. Hampir tak ada lagi waktu dan jarak yang membatasi. Substansi interaksi yang kita lakukan itu pun bermacam-macam. Bisa seputar profesi, proses belajar-mengajar, aktivitas sosial, atau yang bersifat lebih pribadi.

Besarnya kesempatan terjadinya sebuah interaksi, memungkinkan timbulnya gesekan-gesekan antar individu. Salah pemilihan kata, intonasi yang tak tepat, atau bahasa tubuh yang janggal bisa jadi pemicu konflik yang berkepanjangan. Seringkali gesekan-gesekan ini timbul tanpa disengaja, namun kian lama kian besar karena tak mampu kita solusikan dengan baik.

Terlepas dari apapun bentuk dan substansinya, menurut penulis, fungsi utama dari interaksi adalah “sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran kita kepada orang lain”. Oleh karena itu, kita sebagai pelaku mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dalam sebuah interaksi dibandingkan rekan kita yang hanya berperan sebagai objek. Mengenai respon yang diberikan oleh rekan kita, merupakan bentuk interaksi lain. Respon itu menjadi “sarana rekan kita untuk menyampaikan pikirannya kepada kita”.

Sahabat, kunci keberhasilan sebuah interaksi ada di diri kita. Karena dari kita interaksi bermula, maka semestinya bisa kita arahkan agar dapat bermuara dengan baik. Pilihan kata yang tepat, suara yang lembut, dan seulas senyum tulus, menjadi tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam melakukan sebuah interaksi. Banyaknya masalah yang berkecamuk dalam pikiran kita tidaklah bisa dijadikan alasan untuk berlaku kurang baik pada orang lain. Menjadi tidak adil bila kita menumpahkan masalah dengan bersikap buruk pada rekan kita. Ini malah bisa jadi akan menambah masalah baru bagi diri kita.

Maka berinteraksilah dengan baik, atau diam. Karena meski interaksi yang buruk bisa dieliminir dengan pemberian maaf, tapi apa yang mereka rasakan akan terus membekas, Sahabat..

(ditulis dengan diiringi suara rintik hujan dan alunan “When You’re Gone” oleh The Cranberries)

Dialog Imajiner dengan Bung Hatta

“…wij zouden Indonesia liever zien wegzinken in de bodem van der zee, dan het te hebben als een eeuwig aanhangsel van eenige vreemde natie…”
(…kita lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam dasar lautan daripada terus menerus menjadi embel-embel dari sesuatu bangsa lain…)
~ Mohammad Hatta dalam “Indonesia Vrij”

Bung, kalimat itu begitu membekas dalam dadaku. Bung tentu ingat, bukan? Kala itu Bung masih cukup muda, 26 tahun. Lebih muda dariku saat ini. Tapi kata-kata Bung sangat tegas menghunjam. Bung sampaikan secara lantang di jantung pemerintahan negeri yang menjajah bangsa kita berabad-abad lamanya.

Bung, hari ini sumpah itu kembali nyaring terdengar. Tentunya Bung tahu apa yang aku maksud. 84 tahun yang lalu sumpah itu pertama kali terucap. Kala itu Bung memang masih di sana. Tahukah Bung kalau pidato “Indonesia Vrij” Bung ikut menginspirasi sumpah itu terwujud?

Bung, belum seabad sumpah itu terucap, tampaknya tak sedikit yang melupakannya. Atau mungkin lebih tepatnya tak peduli dengan peristiwa itu. Pemuda pemudi saat ini banyak yang kehilangan orientasi. Bangga dengan budaya asing. Akhirnya budaya kita dicaplok bangsa lain. Yang sedang menuntut ilmu malah sibuk berkelahi. Yang seharusnya produktif berkarya, malah asyik korupsi.

Tapi Bung, aku juga belum tentu lebih baik dari mereka. Aku hanya bisa “curhat” dengan Bung lewat tulisan seperti ini. Bila kini Bung masih ada, tak akan mampu aku menatap mata Bung. Tak mungkin berani mulut ini berucap. Aku malu. Kala Bung berpidato dengan nyawa taruhannya, aku sibuk dengan dunia kecilku. Hanya berputar dalam remeh temeh kehidupan yang seakan tak berujung.

Bung, maukah Bung bersama-sama denganku menggaungkan kembali sumpah itu? Semoga bersama Bung, sumpah itu mampu meresap sempurna ke dalam dadaku. Mari kita mulai, Bung:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Terimakasih, Bung. Doakan kami agar sanggup mengikuti jejak langkah Bung..

Dinamika Sebuah Pilihan

If you don’t stand for something you will fall for anything.

~ Malcolm X

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ketika pilihan itu beropsi banyak, maka proses memilih menjadi lebih rumit, namun secara psikologis akan berdampak lebih ringan. Beda halnya dalam pilihan yang hanya beropsi dua: iya atau tidak, mendukung atau menolak. Walaupun proses memilihnya sederhana, tapi dampaknya jauh lebih besar. Kesimpulan akan terkerucut pada satu hal: kawan atau lawan. Bila pilihan memuaskan, maka kita pun mendapat label “kawan”. Sebaliknya bila tidak memuaskan, maka label “lawan”lah yang melekat di diri kita.

Sahabat, kebanyakan dari kita seringkali sulit menentukan mana pilihan yang terbaik yang seharusnya kita ambil. Sulit bukan karena kita tak mampu memilih, tapi lebih karena kita tak berani menghadapi konsekuensi dari pilihan yang hendak diambil. Pertimbangan kita sering terbiaskan oleh konsekuensi yang terbayang dalam pikiran. Dengan mereka yang posisinya lebih tinggi, misalnya atasan di tempat kerja, perbedaan antara pilihan kita dan mereka akan membuat posisi kita “terancam”. Sedang bila perbedaan itu terjadi dalam level yang setara, bisa jadi kita akan dikucilkan.

Read more of this post

Perbedaan: Antara Kebutuhan dan Kenyataan

” Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.” ~ Ali bin Abi Thalib r.a.

Sahabat, di era tanpa batas saat ini, segala informasi mampu menyebar dengan sangat cepat. Tak kenal ruang, tak kenal waktu. Apa yang terjadi di satu tempat, dalam detik yang bersamaan bisa diketahui bahkan disaksikan di belahan bumi lainnya.

Penyebaran informasi seperti ini tentunya membawa dampak bagi kehidupan kita, baik itu dampak positif maupun negatif.  Dari sisi positif, semua manusia dapat menyerap informasi secara merata, sehingga kapasitas dirinya dapat berkembang dengan cepat. Namun beragamnya informasi yang tersebar itu tidak selalu baik untuk diserap, bergantung pada jenis informasi terhadap objek yang menerimanya. Oleh karena itu kita perlu memfilter jenis informasi apa saja yang layak kita konsumsi, serta sejauh mana kita boleh menyerapnya menjadi bagian dari pandangan hidup kita.

Read more of this post