Dialog Imajiner dengan Bung Hatta

“…wij zouden Indonesia liever zien wegzinken in de bodem van der zee, dan het te hebben als een eeuwig aanhangsel van eenige vreemde natie…”
(…kita lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam dasar lautan daripada terus menerus menjadi embel-embel dari sesuatu bangsa lain…)
~ Mohammad Hatta dalam “Indonesia Vrij”

Bung, kalimat itu begitu membekas dalam dadaku. Bung tentu ingat, bukan? Kala itu Bung masih cukup muda, 26 tahun. Lebih muda dariku saat ini. Tapi kata-kata Bung sangat tegas menghunjam. Bung sampaikan secara lantang di jantung pemerintahan negeri yang menjajah bangsa kita berabad-abad lamanya.

Bung, hari ini sumpah itu kembali nyaring terdengar. Tentunya Bung tahu apa yang aku maksud. 84 tahun yang lalu sumpah itu pertama kali terucap. Kala itu Bung memang masih di sana. Tahukah Bung kalau pidato “Indonesia Vrij” Bung ikut menginspirasi sumpah itu terwujud?

Bung, belum seabad sumpah itu terucap, tampaknya tak sedikit yang melupakannya. Atau mungkin lebih tepatnya tak peduli dengan peristiwa itu. Pemuda pemudi saat ini banyak yang kehilangan orientasi. Bangga dengan budaya asing. Akhirnya budaya kita dicaplok bangsa lain. Yang sedang menuntut ilmu malah sibuk berkelahi. Yang seharusnya produktif berkarya, malah asyik korupsi.

Tapi Bung, aku juga belum tentu lebih baik dari mereka. Aku hanya bisa “curhat” dengan Bung lewat tulisan seperti ini. Bila kini Bung masih ada, tak akan mampu aku menatap mata Bung. Tak mungkin berani mulut ini berucap. Aku malu. Kala Bung berpidato dengan nyawa taruhannya, aku sibuk dengan dunia kecilku. Hanya berputar dalam remeh temeh kehidupan yang seakan tak berujung.

Bung, maukah Bung bersama-sama denganku menggaungkan kembali sumpah itu? Semoga bersama Bung, sumpah itu mampu meresap sempurna ke dalam dadaku. Mari kita mulai, Bung:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Terimakasih, Bung. Doakan kami agar sanggup mengikuti jejak langkah Bung..

8 responses to “Dialog Imajiner dengan Bung Hatta

  1. accilong October 28, 2012 at 1:59 am

    inspiring yah.. bung hattamu.. soe hok gie ku.

    hehhehe..

  2. kadek October 28, 2012 at 9:52 am

    memang berat yuan…kita masih banyak lemah berprinsif…..harapanx generasix kita mendatang lebih baik…

    • yuan October 28, 2012 at 3:20 pm

      Aamiin.. Generasi berikut adalah bentukan generasi sekarang, secara langsung maupun tidak. Jadi sedikit banyak ada tanggungjawab kita mewujudkannya..🙂

  3. Bambang Ts October 29, 2012 at 11:37 am

    Tulisan menarik masbro…
    ngomong soal generasi muda memang tiada akhirnya, dan yang terbaik adalah mulai dari diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar… dan dalam teori asymetric warfare, pemuda memang merupakan sasaran terlunak yang diserang untuk menghancurkan sebuah negara atau sebuah peradaban…

  4. sseveneleven November 5, 2012 at 3:46 pm

    Memegang teguh prinsip, melaksanakan komitmen! Itu yg hilang dari bangsa ini

    • yuan November 6, 2012 at 7:30 pm

      Semoga karakter-karakter itu kembali tertanam dalam jiwa para pemuda bangsa Indonesia, Pak.. Aamiin.. Terimakasih atas kunjungannya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: