Dinamika Sebuah Pilihan

If you don’t stand for something you will fall for anything.

~ Malcolm X

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ketika pilihan itu beropsi banyak, maka proses memilih menjadi lebih rumit, namun secara psikologis akan berdampak lebih ringan. Beda halnya dalam pilihan yang hanya beropsi dua: iya atau tidak, mendukung atau menolak. Walaupun proses memilihnya sederhana, tapi dampaknya jauh lebih besar. Kesimpulan akan terkerucut pada satu hal: kawan atau lawan. Bila pilihan memuaskan, maka kita pun mendapat label “kawan”. Sebaliknya bila tidak memuaskan, maka label “lawan”lah yang melekat di diri kita.

Sahabat, kebanyakan dari kita seringkali sulit menentukan mana pilihan yang terbaik yang seharusnya kita ambil. Sulit bukan karena kita tak mampu memilih, tapi lebih karena kita tak berani menghadapi konsekuensi dari pilihan yang hendak diambil. Pertimbangan kita sering terbiaskan oleh konsekuensi yang terbayang dalam pikiran. Dengan mereka yang posisinya lebih tinggi, misalnya atasan di tempat kerja, perbedaan antara pilihan kita dan mereka akan membuat posisi kita “terancam”. Sedang bila perbedaan itu terjadi dalam level yang setara, bisa jadi kita akan dikucilkan.

Perbedaan, apapun bentuknya, seringkali membuat suasana menjadi tidak nyaman. Namun bukan berarti ketidaknyamanan itu selalu berakhir buruk. Perbedaan sebenarnya sangat dibutuhkan untuk memberikan sudut pandang lain, agar keputusan yang diambil berdasar pada pilihan-pilihan yang tersedia dapat menyentuh aspek yang menyeluruh.

Lalu bagaimana bila kita harus berbeda? Menurut hemat penulis, ada beberapa syarat agar perbedaan menjadi lebih bermakna:
1. Niat yang lurus
2. Dasar pemikiran yang kuat
3. Cara penyampaian yang baik

Niat yang Lurus

Sahabat, segala amal yang kita lakukan itu bergantung pada niatnya. Akan menjadi sia-sia sebuah amal – sebesar apapun bentuknya – yang dilakukan selain mengharap ridha Allah. Sebaliknya, sekecil apapun sebuah amal yang diniatkan untuk-Nya tidaklah akan luput dari timbangan-Nya kelak.

Oleh karena itu “pijakan” pertama yang perlu kita lakukan adalah meluruskan niat. Pilihan apapun yang akan kita ambil, hendaknya adalah dalam konteks mencari keridhaan-Nya. Lupakan sejenak bayangan-bayangan buruk akan dampak yang mungkin kita terima. Yakinlah, ketika niat itu telah diluruskan hanya untuk-Nya, maka Ia tak akan “menutup mata” dari apapun yang terjadi atas diri kita. Walaupun mungkin akhirnya tidak berujung sesuai yang kita harapkan, hal ini tetap akan menjadi satu nilai positif tersendiri di sisi-Nya. Insya Allah..

Dasar Pemikiran yang Kuat

Ketika niat telah diluruskan, maka kita perlu berpikir mendalam apakah pilihan yang berbeda itu kita ambil dengan dasar yang kuat. Pahami masalahnya dengan baik. Apa latar belakangnya, aspek apa saja yang mempengaruhinya, dan bagaimana efek keputusan yang diambil berdasar pada pilihan kita itu di masa yang akan datang.

Pilihan tidak diambil sebatas “asal bapak senang” atau agar tidak dikucilkan oleh rekan sejawat. Tidak pula sekedar agar dianggap berbeda dari yang lain. Ada pandangan yang menyeluruh terhadap konteks pilihan yang dihadapi. Terpapar tujuan yang jelas dan tegas, yang hendak kita wujudkan.

Cara Penyampaian yang Baik

Sahabat, niat saja tak akan cukup. Ia perlu dibarengi cara yang baik agar dapat mencapai hasil yang optimal. Kebanyakan kita cenderung resisten ketika dihadapkan dengan cara yang buruk. Substansi akan terabaikan dan termentahkan, tergantikan oleh sikap acuh atau bahkan ucapan tak nyaman.

Ada rumus dasar yang baik untuk kita jalani bersama: perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Ketika cara penyampaian yang kita tempuh sudah baik, maka alur informasi akan mengalir lancar. Memang hal ini tak menjamin apa yang kita sampaikan diterima. Tapi paling tidak, apa yang ingin disampaikan dapat tiba di tujuan dengan “selamat”..😀

Akhirnya, selamat menentukan pilihan, Sahabat. Semoga setiap pilihan yang kita ambil penuh keberkahan..🙂

4 responses to “Dinamika Sebuah Pilihan

  1. accilong April 11, 2012 at 2:25 am

    mantab, sepakat saya.
    ditambah pikiran positif akan jd rumus yg lebih solid. insyaAllah keputusan ttg pilihan akan lebih muda dijalani.

  2. accilong April 11, 2012 at 2:26 am

    eh, dah bisa komen. hooooreeeee. hohoho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: