Perbedaan: Antara Kebutuhan dan Kenyataan

” Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.” ~ Ali bin Abi Thalib r.a.

Sahabat, di era tanpa batas saat ini, segala informasi mampu menyebar dengan sangat cepat. Tak kenal ruang, tak kenal waktu. Apa yang terjadi di satu tempat, dalam detik yang bersamaan bisa diketahui bahkan disaksikan di belahan bumi lainnya.

Penyebaran informasi seperti ini tentunya membawa dampak bagi kehidupan kita, baik itu dampak positif maupun negatif.  Dari sisi positif, semua manusia dapat menyerap informasi secara merata, sehingga kapasitas dirinya dapat berkembang dengan cepat. Namun beragamnya informasi yang tersebar itu tidak selalu baik untuk diserap, bergantung pada jenis informasi terhadap objek yang menerimanya. Oleh karena itu kita perlu memfilter jenis informasi apa saja yang layak kita konsumsi, serta sejauh mana kita boleh menyerapnya menjadi bagian dari pandangan hidup kita.

Namun Sahabat, filter yang kita miliki itu tampaknya kian hari kian rapat. Sehingga akhirnya banyak informasi yang semestinya perlu kita serap tak mampu lewat, atau lebih tepatnya “tak kita biarkan lewat”. Informasi itu tertahan begitu saja. Terabaikan. Sehingga kapasitas diri kita yang semestinya meningkat pesat menjadi stagnan. Atau meningkat, tapi tak signifikan.

Dalam diri kita telah tertanam stereotipe, mana yang boleh diserap, dan mana yang harus ditolak atau diabaikan. Hal ini baik bila dilakukan secara tepat dengan pertimbangan yang matang. Tapi tampaknya kian hari pertimbangan itu kian bias. Seringkali kita menutup telinga kita rapat-rapat hanya karena informasi yang disampaikan itu berasal dari mereka yang berbeda pandangan dengan kita. Kita sering melihat “siapa yang berbicara”, bukan “apa yang dibicarakan”. Kita telah lebih dulu antipati ketika mengetahui bahwa lawan bicara tidak sepaham dengan kita. Pada saat kita bicara dengan mereka seakan-akan tertulis kata “Abaikan!!” pada kening-kening mereka.

Penulis pribadi belajar membedakan, mana informasi yang cukup dijadikan pengetahuan, mana yang boleh dijadikan pandangan hidup. Penulis meyakini bahwa ada sisi baik dan buruk dari setiap orang. Sehingga, walaupun ia berbeda pandangan hidup dari kita, ada hal-hal baik dari kata atau perbuatannya yang layak kita serap.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. diberi amanah oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. melihat seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu memohon minta dikasihani seraya menyatakan bahwa dia mencuri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang kelaparan. Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan pesan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Keesokan harinya perkara tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W.  Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahwa pencuri itu pasti akan kembali. Ternyata keesokan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya ke hadapan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu memohon agar dibebaskan sehingga Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Keesokan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahwa pencuri itu pasti akan kembali.

Setelah pencuri itu ditangkap sekali lagi pada malam berikutnya, Abu Hurairah r.a. mengancam akan membawanya ke hadapan Rasulullah S.A.W. Pencuri itu meminta belas kasihan agar dibebaskan sekali lagi. Melihat Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajar sesuatu yang baik jika ia di bebaskan. Pencuri itu berkata bahwa jika seseorang membaca ayat Kursi sebelum tidur, syaithan tidak akan menggangguinya.

Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi. Keesokan harinya dia melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah benar. Sebenarnya pencuri itu adalah syaithan yang dilaknat.

Oleh karena itu, marilah kita belajar lebih bijak, Sahabat. Kita belajar memilih dan memilah. Jangan sampai, banyak informasi penting yang ternyata kita lewatkan semata-mata karena kekerdilan kita dalam menyikapi perbedaan.. Semoga..

2 responses to “Perbedaan: Antara Kebutuhan dan Kenyataan

  1. Candra March 28, 2012 at 3:33 pm

    mas…keren nih ..seeperti biasa , tulisannya dalam dan berbobot.dan yang paling saya suka tagline blognya mas “saya tidak sebaik yang anda kira” pingin banget njdadikan ini trademark,eh dah keduluan mas yuan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: