Niat saja tidak (akan pernah) cukup

“Kalau saja semua amal perbuatan cukup disandarkan pada niat, rasa-rasanya hidup ini tampak begitu naif.”

#spoiler alert: abstract content


Penulis tidak bermaksud meremehkan “kekuatan” niat. Bagi penulis, niat merupakan pondasi. Seperti layaknya sebuah rumah, niat membantu apapun yang “tegak” di atasnya menjadi kokoh. Iya, niat mendasari setiap perbuatan. Bahkan di sisi Tuhan, sebuah niat baik tetaplah bernilai meskipun ia tak pernah terealisasi. Penulis yakin benar akan hal itu.

Namun Sahabat, perbuatan itu baru akan terwujud ketika ia ditopang oleh niat yang kuat. Kekuatan niat ini, menurut hemat penulis, terdiri dari dua sifat: bersih dan jelas. Bersih, karena ia tidak tercampuri oleh godaan hawa nafsu. Murni hanya ditujukan untuk mencari ridha Tuhan. Jelas, ketika ia memiliki visi yang nyata. Visi yang mampu dijabarkan dalam rangkaian aksi yang teratur rapi.

Sahabat, ketika niat tidak terwujud sesuai dengan yang diharapkan, mari kita koreksi sejauh mana kekuatan niat yang kita miliki. Tak hanya sekedar pasrah bergumam, “Mungkin sudah begitu jalannya.” Penulis tak meragukan kebersihan niat kita masing-masing. Hal itu adalah wilayah privat antara kita dengan Tuhan. Penulis lebih menyoroti pada sejauh mana niat itu tergambar dalam pikiran kita. Semakin jelas sebuah niat tergambar, akan semakin mudah pula kita dalam membuat perencanaan, yang pada akhirnya membuat langkah yang akan diambil menjadi lebih terarah.

Sebagian orang ketika mengalami kegagalan mungkin akan berkata, “Yang penting niatnya baik.” Atau dengan kalimat “pembesar” jiwa lainnya, “Yang penting sudah berusaha.” Kata-kata ini tak sepenuhnya salah. Namun akan menjadi kurang tepat dalam timbangan waktu. Antara niat dan realisasinya, baik itu berhasil ataupun gagal, tentunya memiliki rentang. Ketika sebuah niat gagal terwujud, maka sebenarnya kita telah “kehilangan” sejumlah waktu dalam rentang tersebut.

Seperti halnya ketika kita menaiki sebuah tangga, niat yang berhasil membuat kita menapak satu anak tangga lebih tinggi sehingga dengannya kita akan bisa terus menapak ke anak tangga yang lebih tinggi lagi. Ketika niat gagal terealisasi, maka kaki kita tentunya tetap menjejak pada anak tangga yang sama. Bila ingin sampai pada anak tangga yang letaknya dua kali lebih tinggi, maka kita perlu meluangkan sejumlah waktu tambahan guna menapak ulang anak tangga pertama tadi.

Sahabat, kebanyakan kita acapkali memasrahkan niat pada keadaan. Padahal, bukankah dalam bidang manajemen sering disebutkan bahwa, “Gagal dalam perencanaan sama saja dengan merencanakan kegagalan”? Kita begitu dianjurkan untuk membuat perencanaan yang matang dalam setiap niat yang telah dibatinkan. Maka kuatkanlah setiap niat kita dengan visi yang nyata, Sahabat. Agar niat itu mampu mewujud sempurna. Semoga..

10 responses to “Niat saja tidak (akan pernah) cukup

  1. honeylizious November 9, 2011 at 6:10 pm

    tapi niat yang terlalu kuat kadang menyakitkan😀

    • yuan November 9, 2011 at 6:16 pm

      itu karena kita mengiringi niat tersebut dengan harapan yang terlalu besar..🙂 makasih atas kunjunganny, mbak hani…😀

  2. accilong December 15, 2011 at 10:40 pm

    asyiiikkk skaliiiii…🙂

    hm.. sepertinya qt harus sedikit mmbedakan niat dan “ambisi”. nilai rasanya beda yah.
    oyew, mas. bg fathoni pensiun nge-blog?

    • yuan December 15, 2011 at 10:48 pm

      hehe.. sepakat..🙂

      mas fath masih blogger koq… mgkn beliau lagi tenggelam dalam aktivitasnya..😉 twitternya jaring aktif lagi ya..?😀

  3. accilong December 15, 2011 at 10:58 pm

    kemarin ganti inisial. hahhaha… baru nyadar. ternyata gra2 ganti, updatean blogq dak muncul. paraaahh. wkwkkwkwkwkk..

    pantas sja update-an blognya dak pernh muncul lgi.
    em… tp sya mmg jarang main di twitter dah. blum jago berkicau.🙂

    • yuan December 15, 2011 at 11:02 pm

      hehe… lama g berkunjung ke blog mbak Achi.. tau2 tulisannya dah seabreg.. btw, mbak yang komen pertama di atas tuh blogger aktif loh.. siapa tau bisa jadi sahabat..🙂

  4. Fathoni Wahyu Utama December 25, 2011 at 8:14 am

    [wonders] Haaa.. opo tho ini? Ngrasani saya?😀
    Kemarin itu.. saya sempat mengalami “bencana”, setelah ditawari mencoba “New Look” dashboard Blogspot (dan saya “iya”-kan) malah ngga bisa nongol apapun. Login sukses, tapi dashboardnya jadi blank page. Berminggu-minggu gitu.. Jadi ga bisa posting😦
    Bisa sih, pake trik… saya post via Amplify, dari situ (kebetulan sudah saya set sejak lama) post tsb akan di-forward otomatis ke FB, Twitter, Plurk, Blogspot… hehe. Alhamdulillah semingguan yang lalu kayaknya, semua pulih. New Look-nya mmg siiip… *ngelirik Yuan* B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: