Mari Belajar Mendengar

“Begitu banyak dari kita yang bertelinga, tapi hanya segelintir yang mampu mendengar.”

Sahabat, mungkin kita pernah mendengar filosofi tentang mulut dan telinga. Filosofi itu kira-kira berbunyi sebagai berikut, “Kita dibekali sebuah mulut dan sepasang telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.” Sebuah filosofi yang sangat sederhana, namun tampaknya cukup berat untuk mampu dijalani. Dalam  berbagai kesempatan kita melihat begitu banyak orang yang “berlomba-lomba” untuk berbicara. Kalaupun mereka diam, seringkali itu hanya mencuri waktu untuk menyusun strategi mengalahkan lawan bicaranya. Hanya sedikit yang mau “mengalah” untuk menjadi pendengar yang baik.

Di masa silam, penulis pernah bercanda dengan beberapa sahabat. Penulis sampaikan bahwa, “Mulut itu punya syahwatnya sendiri.” Pernyataan yang memang penulis sampaikan tanpa dasar yang jelas, namun lebih sebagai bentuk keprihatinan penulis terhadap apa yang terjadi di sekitar. Bagi kebanyakan orang, tampaknya ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika mereka mampu mendominasi pembicaraan, walaupun apa yang disampaikan itu mungkin belum jelas substansi dan orientasinya.

Padahal Sahabat, menurut penulis, tersimpan begitu banyak kebaikan dari kesediaan kita untuk mendengar. Memposisikan diri sebagai pendengar bukanlah cermin kurangnya kapabilitas kita dalam topik yang diperbincangkan, tapi lebih merupakan tanda kebesaran jiwa. Kemauan kita untuk mendengar, menggambarkan besarnya rasa penghargaan kita terhadap lawan bicara. Tak peduli dengan siapa kita berbicara, pada dasarnya setiap orang layak untuk didengarkan. Karena tiap kita berbeda, baik secara keilmuan maupun pengalaman.

Kesabaran dalam menyimak apa yang disampaikan sang lawan bicara, menandakan bahwa diri kita bukanlah “si selalu benar”. Menunjukkan bahwa kita cukup terbuka dengan segala kemungkinan. Perspektif baru yang kita terima dari lawan bicara boleh jadi semakin menambah khazanah pemikiran kita dalam mematangkan keputusan-keputusan yang akan diambil. Terkadang ada nilai-nilai yang “terselip” dalam sebuah pembicaraan, yang mungkin akan sangat berguna dalam sisi lain kehidupan kita. Nilai-nilai yang mungkin saja terabaikan karena “kesibukan” kita memenangkan sebuah pembicaraan.

Namun Sahabat, mendengar memang tidaklah mudah. Karena sang ego selalu siap menerkam dengan taring-taringnya. Untuk itu, marilah kita temukan cara untuk menjinakkan sang ego. Tempatkan ia sebagai sang penjaga yang hanya akan memberikan peringatan ketika kita dalam keadaan bahaya. Agar ia tidak selalu menggigit dan menerkam siapa saja yang datang mendekat. Semoga..

6 responses to “Mari Belajar Mendengar

  1. honeylizious October 28, 2011 at 10:21 am

    terkadang memang menjadi yang didengarkan itu menyenangkan tapi manfaat jd pendengar juga tak kalah besar

  2. pia October 29, 2011 at 2:56 pm

    kebanyakan jadi pendengar, karena ga terlalu suka ngomong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: