Memilih untuk Dewasa

“Menjadi tua itu biasa, namun dewasa itu pilihan” – Unknown

Dalam banyak kesempatan, penulis melihat bahwa usia itu tidaklah berbanding lurus dengan kedewasaan. Tak terhitung jumlahnya orang yang telah dianggap dewasa secara usia, ternyata tidaklah mampu berperilaku dewasa yang semestinya. Nah disinilah penulis pikir letak permasalahannya. Selama ini kita sering mengidentikkan kedewasaan dengan usia. Padahal penggunaaan standar usia sendiri masih berbeda-beda penerapannya. Misalnya untuk dapat memiliki KTP dan SIM batas minimal adalah 17 tahun, untuk diperbolehkan menikah sekurang-kurangnya 21 tahun, untuk dapat memiliki sebuah perusahaan sendiri paling tidak kita harus berusia 18 tahun.

Penulis pribadi kurang sepakat bila kedewasaan itu dikaitkan dengan usia. Memang demi alasan administratif, batasan itu perlu ada. Namun penulis pikir, batasan itu lebih ke arah normatif. Bukan sebuah kemutlakan. Tidaklah tepat ketika seseorang sudah mencapai batas usia tertentu, maka ia sudah pasti dianggap dewasa. Karena bagi penulis, kedewasaan itu adalah sebuah kata sifat. Seseorang dianggap dewasa karena ia telah mampu berperilaku dewasa. Lalu seperti apakah perilaku dewasa itu?

Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat mendiskusikan tentang definisi kedewasaan dengan beberapa sahabat. Ternyata jawaban yang diberikan berbeda-beda. Pada umumnya jawaban yang diberikan berkaitan dengan “tanggung jawab”. Dewasa itu adalah ketika seseorang mampu memikul tanggung jawab. Pernyataan ini tidaklah salah, namun perlu sedikit penekanan. Tanggung jawab pada apa dan siapa? Hal ini perlu diperjelas lebih lanjut.

Penulis yakin, sebagian besar dari kita yang telah “dewasa secara usia”, mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya sendiri. Namun apa yang kita lakukan itu sejatinya tidaklah hanya berimplikasi pada diri kita sendiri. Sedikit banyak, orang-orang di sekitar akan ikut merasakan dampak dari setiap perilaku kita. Entah itu secara fisik, maupun psikis. Karena itu tidaklah cukup bila kedewasaan hanya dikaitkan dengan diri pribadi.

Dalam diskusi tersebut di atas, ada satu definisi kedewasaan yang penulis sepakati. Kedewasaan adalah ketika kita mampu bertanggung jawab atas setiap perbuatan diri dengan mempertimbangkan dampak yang timbul atas diri dan lingkungan. Definisi inilah yang penulis coba terapkan. Tidak mudah memang. Namun dengan usia yang telah lewat dari seperempat abad, bukanlah hal yang lucu bila penulis masih bersikap kurang dewasa. Karena usia seperempat abad, sudah jauh di atas standar kedewasaan manapun juga. Semoga penulis bisa..

41 responses to “Memilih untuk Dewasa

  1. dee January 25, 2011 at 1:04 pm

    dewasa ituuu,,,,,,, ketika ia tidak mendapatkan apa yang ia mau– ia ikhlas…πŸ˜€

    coba anak kecil.. klo ia ga dapet apa yang diinginkannya mesti nangis “pokokkknya harus dapet!!!”

    :))

  2. Fathoni January 25, 2011 at 5:21 pm

    “dewasa” itu (di titik paling optimal), “temporary state of both the mind/spirit and the body”. Karena manusia selalu berubah.. kadang bisa (bersikap) dewasa di satu saat, satu kasus, satu keadaan.. lain kali dia ternyata kurang bisa… dan kadang malah gagal total.

    “dewasa” dalam kedekatan makna dengan “wisdom”, cenderung bertaut erat ke “state of the mind/spirit”, maka kadang kita jumpai manusia yang bisa bersikap dewasa dalam di umur (biologis) muda. Istilah “muda” ini pun relatif; maksud saya “muda” di kalimat sebelumnya ialah pada usia belasan tahun atau bahkan kurang dari itu.

    Bukan hanya itu, bisa saja kita temui “kedewasaan” pada mereka –yang karena ujian dari Allah– terhambat untuk menjadi dewasa secara biologis (penderita cacat/sindrom tertentu misalnya).

    Konon, “dewasa” terpengaruhi pencapaiannya oleh pengalaman, maka beberapa orang menghubungkan “dewasa” dengan usia. Sayangnya, tidak selalu demikian. Ada juga yang semakin tua, semakin tidak dewasa… walaupun, “the state of both our mind/spirit and our body” ketika semakin tua memang semakin mendekati anak-anak. Pernah memperhatikan bagaimana orang jika semakin tua? Semakin kekanak-kanakan, bukan?

    Ah, maafkan saya karena terlalu banyak bicara…

    • yuan January 25, 2011 at 5:36 pm

      Hehe.. Pembahasan Mas malah lebih detail..πŸ˜‰
      IMHO, dewasa itu adalah suatu “keadaan” yang harus diusahakan. Tidak mutlak ketika seseorang berperilaku dewasa pada satu waktu, maka di waktu yang lain ia tetap mampu berperilaku dewasa pula.. Karena begitu banyak faktor yang mempengaruhi kita dalam menyikapi sebuah peristiwa..

  3. zammi January 25, 2011 at 6:14 pm

    Kalau kata bapak saya, “…kamu itu lum dewasa kuliah lum lulus kerja pun lum ada..
    terkadang kategori dewasa itu terlahir dari sudut pandang masyarakat melihat kaum muda dengan kebiasaannya dalam masyarakat. ada yang bilang kalau sudah menikah baru dewasa, ada juga yang beranggapan saat anak yang dianggap nakal dan kekanak2kan meminta untuk menikah kemudian di berilah menikah al hasil terkadang terjadi level dewasa karena pengaruh keadaan namun tidak semuanya begitu ada juga yang malah di tengah jalan proses perjalanan rumah tangga malah terhenti karena sikap kurang dewasa…
    sependapat sekali jika dewasa itu adalah titik optimal seperti yang disampaikan mas fath, dimana nilai tingkat pengalaman serta mind/sprit. jadi pandangan orang lain tentang diri kita sendiri bisa juga jadi tolok ukur tingkat level kedewasaan, tidak hanya harus bersyarat berupa Ktp, sim, dan nikah. dan saya berasumsi mas yuan dan mas fath sudah memiliki level kedewaaan sendiri, hanya tinggal butuh pelengkap serpti yang banyak di asumsikan orang lain yakni menikah.. hehehe kalau sim,ktp dan kerjaan tentu sudah punya kan? hehehe..

    • Fathoni January 25, 2011 at 6:29 pm

      @zammi: Hallah… so classic :-p
      Haduh, ngeles dot com gini niy jg kurang dewasa keknya yah?
      Hehe..😈

      • yuan January 25, 2011 at 6:36 pm

        mas fath nongol tiba2, bikin kaget aja..πŸ˜€ tu dah dikasih “jamu instant” jadi “dewasa” ma abdullah.. :))

    • yuan January 25, 2011 at 6:35 pm

      @abdullah
      wkwkwk… jadi kesimpulannya “itu” toh..? :p dengan menikah, kita “dipaksa” untuk jadi manusia dewasa.. namun terkesan menjadi “trial and error”.. bagi sebagian yang berhasil, mgkn akan berjalan baik.. namun bagi yang kurang berhasil, bisa jadi hidupnya menjadi terseok-seok.πŸ˜€ namun apapun jalan hidup yang kita tempuh, jangan sampai kita lupa untuk memaknai setiap momen yang ada.. karena sy yakin, kemauan dan kemampuan kita dalam memaknai, akan mengasah kedewasaan diri kita..πŸ˜‰

  4. dee January 25, 2011 at 9:11 pm

    ====jadi banyak referensi==== πŸ˜€

    tapi kok dee bingung dengan yang disampaikan mas fath ya? biasaa… ndadak nganggo bhs inggris.. :”> ora mudeng….

    • yuan January 25, 2011 at 9:15 pm

      memang “bahasa”nya mas fath tuh begitu.. harus dibaca pelan-pelan.. dicerna kata per kata.. kalimat per kalimat..πŸ˜€

  5. zammi January 25, 2011 at 9:13 pm

    wedeh… malah jadi jamu instan.. jadi enak…uey.. eheee
    maaf mas fath… wah.. hehe….maklum sya anak ndeso…idle clasic masih nempel…hehe
    sepertinya kasus trial dan error masih di pakai di kampong halaman saya.. terbukti banyak jamu(janda muda) dan jamal(janda malasya) disasana..sepakat apapun jalan hidup intinya ada hikmah di balik semuanya…untuk kita pelajari dan renungkan..

    • yuan January 25, 2011 at 9:19 pm

      hidup kan ga ada rewind, forward, dan pause.. yang ada cuma play and stop..πŸ˜€ pilihan yang tersisa buat kita cuma terus melangkah sambil belajar dari apa yang telah dijalani.. nek opsi “stop”, kan DIA yang punya..πŸ™‚

  6. zammi January 26, 2011 at 12:08 am

    mas dee — yeah jadi udah tahukan nek mas fath bahasanya tinggi..
    kalau masih bungung tinggal ketik dii konsol aja..
    root@bt:~# fath –help
    nah.. ntar tinggal baca deh.. hehe..
    sperti opsi rewind,forward dan pause sudah jari ketentuan yang Maha kuasa yang punya kemampuan.. dan hanya ada dunia kartun dan skenario produser aje ada kayak gtw.. karena hidup adalah realita tanpa naskah dan skenario…

  7. zammi January 26, 2011 at 12:25 am

    hohoh.. wedeh.. . maaf..
    tak kira mas..mas.. jadi ID Dee siapa mas?
    hehe.e.e.e

  8. zammi January 26, 2011 at 12:38 am

    wedeh… kayak aroamanya ndak enak nih.. yeah.. salam kenal aje deh..
    dari yuniornya..

  9. zammi January 26, 2011 at 12:40 am

    wedeh… gtw yah.. hehehe. yeah.. salam kenal aje deh..
    dari yuniornya…. yang jelas senior kayaknya.. maaf deh bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar..(kayak kartu undangan aja ..hoho)..

  10. devid January 26, 2011 at 8:17 am

    assalamu’aliakum…
    wahh sepakat sy. tulisannya sangat mengena sekali sangat menginspirasi*asal ngomong hihi*
    klo kata mas muzammi “luar bisa” hehe jadi pingin terus belajar dewasa n pingin cepet dewasa.. hehe.. semoga sy bisa..^.^V

  11. devid January 26, 2011 at 9:21 am

    assalamu’aliakum…
    wahh sepakat sy. tulisannya sangat mengena sekali sangat menginspirasi*asal ngomong hihi*
    klo kata mas muzammi β€œluar bisa” hehe jadi pingin terus belajar dewasa n pingin cepet dewasa.. hehe.. semoga sy bisa..^.^V

    • yuan January 26, 2011 at 7:38 pm

      wa’alaikumussalaam warohmatulloh… semangat banget sampe nulis komen dua kali..πŸ˜€
      amiin.. amiin… kedewasaan itu butuh diusahakan, g datang dengan sendirinya..πŸ˜‰ mari sama2 kita belajar menjadi lebih dewasa dari hari ke hari..

  12. dee January 26, 2011 at 9:26 am

    nangis sambil ketawa =)) =)) :(( :(( :(( =)) =))

    baru kali ni ada orang yang panggil dee dengan “mas” =)) =)) =)) =)) =))

    salam kenal gih mas zammi (ga tehu nama aslinya)πŸ˜€

    • Fathoni January 26, 2011 at 5:21 pm

      Ramenyaa.. Yuan pasti seneng nih, blognya rame..πŸ˜†

      @dee: enti orang komputer kan? Bukan?
      Klo orang komputer mestinya sithik-sithik iso boso inggris.
      Jadi, “dewasa” itu “keseimbangan keadaan mental/jiwa dan badan/jasmani”; itu optimalnya tapi. Karena banyak juga yang cuma satu aspek, sehingga kita bisa melihat di kehidupan sehari-hari ada yang masih “anak-anak” tapi sudah bisa bersikap dewasa, atau sebaliknya, sudah tua tapi perilakunya kekanakan, dan sebagainya.

      Dan itu temporer alias sementara; dari satu saat ke sat lain, dari satu kasus ke kasus berikutnya.. orang sangat mungkin berubah dari sebelumnya bisa bersikap dewasa menjadi tidak bisa lagi. Seperti berbuat/beramal baik, kita semua tidak mungkin bukan selalu dalam keadaan baik melulu? Hanya para nabi dan rosul yang seperti itu. Sedangkan yang konstan, nah, itu para malaikat. Ya begitu lah.

      Nek dari sisi “kebijaksanaan”, atau “wisdom” boso alien-e.. dewasa itu lebih erat terkait dengan keadaan jiwa/mental.. Yaa, karena itu tadi, tua secara biologis tidak menjamin yang bersangkutan bisa bijaksana..

      Wis ah, iki asline ukhti Dee itu ngerti lah… mosok ra ngerti.

      Haduh, afwan udah kadung ngetik “ukhti”…😎

      • yuan January 26, 2011 at 7:41 pm

        hehe.. seneng banget, mas..πŸ˜€

        @dee
        listening mode = on
        #sekali mas fath dah ngobrol, ya begini ini..πŸ˜‰

    • yuan January 26, 2011 at 7:39 pm

      @dee
      hehe… nama aslinya abdullah,,πŸ™‚

  13. Fathoni January 26, 2011 at 5:23 pm

    Oya..
    @zammi a.k.a Abdullah: kalo “jamu” = “janda muda”, yaa.. not too bad lah…😈

  14. dee January 26, 2011 at 8:19 pm

    @ms uan :πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ horeee no… tema yang kuajukan “rame” \(^0^)/

    ya ya ya mas fath di maafkan… katane mo manggil sister? kok ukhti maneh? :((

    • Fathoni January 26, 2011 at 9:07 pm

      @dee: Mmm.. yah, sebenernya “(my) sister” ama “ukhti” itu khan yo podho ae; ming siji boso inggris, sijine maning boso arab. Ga masalah tho kalo Fath kadang pake “sister” trs kadang pake “ukht”…πŸ˜‰

  15. dee January 26, 2011 at 9:13 pm

    :(( emoh nek ukhti… beda beda bedaaa….. :-S

  16. zammi January 27, 2011 at 8:21 pm

    weheheh…
    akh fath suka jamu toh hehehe…ra opo2 mas sehat kok minum jamu tiap hari…
    hehehe…

  17. blame January 31, 2011 at 2:11 pm

    numpang absen.. pembahasan awal mbaca komen pada dewasa… setelah komen 25 kok kembali ke asal childish ku nular niy…wekekekeke

  18. Fathoni January 31, 2011 at 10:42 pm

    @blame: Waaah.. ke-25? Lha iku aq.. ane itung beneran loh..πŸ˜€
    Huh, iyo kiy.. salahmu!

    *blaming to Blame*πŸ˜†

  19. atiektwinsab July 5, 2011 at 1:06 am

    Siiip….se7..,,,,tua it pasti…dewasa adalah pilihan…,,,,:)

  20. Pingback: Harga Sebuah Kedewasaan « saya tidaklah sebaik yang Anda kira..

  21. al muzammi February 13, 2012 at 3:55 am

    wah.. terahir ada yang koment bulan july 2011… dan saya mengawalawi coment perdana bulan februari 2012…
    yeah..proses dewasa …nyambung lagi.. deh..ber argumen..
    “saya bukalah setan selalu berbuat salah dan disalahkan, dan saya juga bukalan malaikat yang tidak selalu benar.(unknown)…
    intinya, proses dewasa itu selau dan pasti ada phase true and false dan,,,so sejauh mana keduanya itu menjadi bagian dalam perjalannya hidupnya dan menjadi pelajaran, sebanyak itulah ukuran orang dewasa yang belajr dari kesalhan dan belajar untuk menerima ketkd sempuraan..πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: