Mendengar dengan Hati

“The quieter you become, the more you are able to hear..” ~ BackTrack Linux’s Tagline

Mendengar mungkin telah menjadi aktivitas sehari-hari bagi kita semua. Dengan mendengar, kita membeda suara yang masuk ke dalam gendang telinga. Sehingga kita mampu mengidentifikasi darimana sumber bunyi berasal. Kita jadi tahu siapa sahabat-sahabat yang sedang berada di sekitar tanpa kita perlu menoleh ke arahnya, cukup hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Mendengar juga melengkapi aktivitas berbicara yang sering kita lakukan. Tiada orang yang mau berbicara tanpa ada yang bersedia mendengarkan.

Sahabat, setiap yang telah berbicara, hendaknya juga mau mendengarkan. Paling tidak untuk mengetahui apakan hal-hal yang dibicarakan mampu diserap dengan baik oleh orang yang mendengarkan. Berbicara dan mendengar menjadi sebuah keharusan agar sebuah percakapan dapat berlangsung dengan baik.

Namun ternyata, aktivitas mendengar ini tidaklah mudah. Kebanyakan kita lebih mampu untuk berbicara daripada mendengar. Mendengar seakan menjadi aktivitas yang begitu berat. Lihatlah bagaimana dua sahabat saling bercakap, terkadang mereka berebut untuk saling berbicara. Yang satu memotong pembicaraan yang lain. Masing-masing berebut untuk didengarkan. Akhirnya sebuah pembicaraan menjadi tidak jelas ujung pangkalnya.

Begitu juga dalam diskusi atau rapat di tempat kerja. Mungkin karena kepentingan yang “bermain”, masing-masing orang ingin selalu didengarkan. Semakin besar kans untuk didengarkan artinya usul yang diberikan juga semakin besar peluangnya untuk diterima. Dan dalam jangka panjang mungkin saja akan membuat tingkat kesejahteraan kita menjadi semakin baik. Sehingga akhirnya pembahasan yang dilakukan selama berjam-jam tidak mampu mengarah kepada sebuah kesimpulan bersama. Hanya menjadi sebuah perdebatan panjang berdasar pada konflik kepentingan belaka.

Ya, mendengar memang tidak mudah. Mendengar butuh keahlian sendiri. Ketika kita berniat menjadi pendengar, maka kita perlu endapkan ego diri. Apa yang tidak kita sepakati dari sebuah pembicaraan, simpanlah hingga pembicaraan itu selesai dilakukan. Lalu setelah itu baru kita komentari dengan cerdas, dengan menanggalkan emosi.

Mendengar itu bukan menandakan bahwa kita lebih buruk dari yang berbicara. Mendengar itu lebih kepada sejauh mana kita mampu menghargai orang lain. Bila kita telah memandang rendah seseorang, sesesungguhnya kita telah kehilangan kemampuan mendengar atas orang tersebut.

Sahabat, makna itu bisa datang dari siapa saja. Dari orang yang lebih muda, dari mereka yang tingkat pendidikannya berada di bawah kita, dari mereka yang dibanding kita lebih tidak berpunya, dari siapa pun juga. Marilah kita belajar untuk tidak ‘mengkerdilkan” apa yang disampaikan oleh orang lain, siapa pun ia. Karena bisa jadi didalamnya tersimpan makna yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita kelak. Semoga kita lebih mampu mendengar dengan hati, Sahabat..

6 responses to “Mendengar dengan Hati

  1. anies December 12, 2010 at 9:22 am

    ya ya.. i like this..
    Mendengar dengan hati perlu pemahaman juga, akan lebih mengena dari pada mendengarkan lewat telinga yang kadang masuk telinga kiri keluar telinga kanan..
    btw, kok ini blog dipakai lagi.. kemaren ga aktif lagi? haha

    • yuan December 12, 2010 at 9:28 am

      yup, sepakat..🙂
      dipake terus koq, dek.. ni kan blog primer abang.. nek amplify buat bantu broadcast ke account yang lain..😉
      ayo, mana tulisan barunya..? :w

  2. anies December 12, 2010 at 9:32 am

    haha.. nulis resep masakan aja ya..
    Lagi banyak belajar memasak je ini.. hihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: