Aliran Kebaikan

Ibarat air, kebaikan itu juga mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Kebaikan itu mengalir dari orang yang berpunya kepada mereka yang kekurangan.

Menjadi orang yang berpunya itu baik, namun jangan berpura-pura berpunya. Selain kepura-puraan itu sejatinya bukan hal yang baik, sungguh sikap kepura-puraan itu akan menutup aliran kebaikan yang mungkin akan mengarah pada diri kita.

Seringkali tanpa sadar kita memilih untuk berpura-pura agar dianggap sebagai orang yang mampu dan kompeten oleh sekitar. Biasanya hal itu dilakukan agar kita dipandang lebih baik dari yang lain. Sekedar memenuhi prestise diri. Padahal bukannya memberi solusi, sungguh sikap itu mungkin hanya akan mendatangkan masalah-masalah baru yang sejatinya tidak kita inginkan.

Sahabat, setiap benda memiliki bayangannya masing-masing. Semakin tinggi benda itu, maka bayangannya pun semakin panjang. Ketika kepura-puraan diri yang kita bangun semakin tinggi, maka panjang bayangan yang harus kita tutupi akan menjadi semakin besar.

Selain itu Sahabat, kepura-puraan sungguh akan menutupi aliran kebaikan. Aliran kebaikan yang diniatkan seseorang untuk mengarah pada diri kita bisa jadi diurungkan karena melihat diri kita telah berpunya. Kalau kita berbicara tentang azas manfaat, tentulah orang lebih memilih untuk memberi pada mereka yang tak berpunya agar sisi kemanfaatan menjadi semakin besar.

Tak ada yang salah mengatakan kita tak punya. Ketidakberpunyaan bukanlah menandakan kerendahan diri kita. Ketidakberpunyaan itu hanya menunjukkan bahwa IA menyayangi kita dengan tidak memberikan kesempatan pada diri untuk memiliki apa yang tidak dipunya.

Sungguh keberpunyaan itu memiliki tanggungjawab dibaliknya. Oleh karena itu, ketidakberpunyaan akan membuat daftar tanggungjawab yang harus kita penuhi menjadi semakin sedikit. Bukankah hal itu perlu kita syukuri, Sahabat..?

Maka marilah jadi diri kita apa adanya, Sahabat. Berpunya ataupun tidak, semuanya patut kita iringi dengan kesyukuran. Bila kita berpunya, tentu kita bisa mengalirkan kebaikan pada orang lain. Sebaliknya, bila kita tak berpunya, sungguh kita memberikan ladang amal bagi orang lain untuk mengalirkan kebaikannya pada diri kita. Yang penting, kita tidak menuntut untuk dialiri kebaikan. Biarkan kebaikan itu mengalir alami. Karena IA lebih tahu apa yang terbaik bagi diri-diri kita..

23 responses to “Aliran Kebaikan

  1. diah December 11, 2010 at 8:36 am

    klo misalnya ia “punya” tapi ia merasa minder thdp yg lain hingga ia berpikir ia “tidak punya” gmn?

  2. Fathoni December 11, 2010 at 8:43 am

    Am I the first one her.. *wondering*

    Bila tidak disertai “barrier”, ketidakberpunyaan (kira-kira) sama jeleknya dengan keadaan “berpunya” itu sendiri.
    Kefakiran dekat kepada kekafiran, remember that?πŸ˜‰
    Demiian juga, kalau berpunya, cuma terarah kepada hal-hal tidak bermanfaat; mungkin beli hal yang tidak perlu (berarti boros), beli/mendanai kegiatan maksiat.. etc.
    Sama jeleknya.

    Barangkali, “harta” yang paling layak didamba untuk dimiliki adalah iman. Kalau tidak punya yang satu ini, benar-benar menjadi orang yang “tidak berpunya”, alias “miskin abis”…

    • yuan December 11, 2010 at 11:03 am

      mas fath kalah cepat 7 menit.. :p
      ya, ya.. jadi inget soal hape yang di toga mas itu..πŸ˜€
      kesimpulanne berpunya ato tidak, harus dibarengi dengan iman..πŸ™‚

  3. Fathoni December 11, 2010 at 8:44 am

    Yaaah.. nulis “here” jadi kurang “e”.. *komen ga penting*πŸ˜•

  4. diah December 11, 2010 at 10:20 am

    bagaimana jika ia sebenarnya “punya” tapi ia merasa rendah diri sehingga ia berpikir ia “tidak punya”
    πŸ˜•

    • yuan December 11, 2010 at 11:08 am

      Semangat banget komennya sampe 2 kali..πŸ™‚ Biasane kan dee komen pake opera mini, di wp udah dikenali. Hari ini pake pc-browser ya..? Tadi mesti dimoderate lagi..πŸ˜€

  5. Fathoni December 11, 2010 at 11:10 am

    @Yuan: “her” di situ bukan lawan kata “him”.. Koq nanya “siapa”.. :-p

    Lho, btw wkt sy post komeng.. lom ada orang di atas saya tuh? *krg terima niy critanya haha*πŸ˜†

    • yuan December 11, 2010 at 11:18 am

      I’m wondering U’ve been thinking someone when U wrote down that comment.. :p
      hehe.. tu cuma masalah sistem, mas..πŸ™‚ tapi kan selama beberapa puluh menit, mas sempat jadi yang pertama..πŸ˜€

  6. Fathoni December 11, 2010 at 11:21 am

    @Yuan: … Yup, I’m not thinking about somenone back there…πŸ˜‰

  7. diah December 11, 2010 at 11:31 am

    wah… ya maaf.. lagi eror smart nya.. tadi ga konek2.. di buka lagi ga da komen.. yo wis akhire pake browser.. :-p
    pertanyaan ga ditanggapi malah komen dua kali yang ditanggap? >.<

    • yuan December 11, 2010 at 11:41 am

      hehe.. minder itu tak membuat kita jadi berpikir tidak berpunya. minder itu membuat kita memilih berpikir tidak berpunya. makanya mindernya itu perlu dicari solusinya terlebih dahulu. pada dasarny orang yang minder tau kelebihan dan kekurangan dirinya.. sekarang tinggal bagaimana ia mengurangi rasa mindernya itu, agar ia bisa menjadi apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ia miliki..πŸ˜‰

  8. Fathoni December 11, 2010 at 12:00 pm

    Jika tidak ada penerimaan, tidak akan ada kesembuhan.

    Aslinya itu kutipan dari buku HP seri.. berapa yah, lupa.. By Dumbledore.

    Yang saya tangkep dari situ, kalau kita (masih) tidak terima dengan kondisi kita, dengan diri kita “apa adanya”, kesembuhan itu susah diharapkan datang. Ini (masih) terjadi dengan diri saya saat ini (you know, between me, my position/job here, and my parents, mostly).

    Ya begitulah..😐

    • yuan December 11, 2010 at 10:31 pm

      sebelum menerima kita perlu mengetahui, Mas.. kadang2 kan kita g sadar dengan kondisi kita sendiri..πŸ˜‰ setelah tahu, baru kita menerima, lalu dicari deh solusi penyembuhannya..πŸ˜€
      about U, your job, and your parents, I couldn’t say much.. I think there’s time that we’ve make our own decission.. U know me better for what I said earlier.. hehe..

      OOT: tentang penerimaan dan penyembuhan, jadi inget buku sy yang judulnya Q&A About Death and Dying.. kemana ya..? rasanya dah lama sy g lihat tuh buku..😐

      • Fathoni December 11, 2010 at 11:08 pm

        Benar; “pengetahuan”. Itu yang harus dipunyai lebih dulu.

        Ah saya ingat keknya, ttg kutipan di atas. Waktu itu segera setelah sebuah insiden dan HP di bed RS.. dia dikunjungi Dumbledore, yg (walaupun Madam Pomfrey keberatan) mengajaknya membahas situasi saat insiden itu sendiri demi menguak informasi dan kenyataan di baliknya. “Dia harus tahu apa atau siapa yang menyerangnya malam ini..”, well, walau di dalam tanda kutip mungkin saya tetap salah, tapi kurang lebih itu yg mengawali apa yang saya kutip di komen sebelum ini.

        Jadi memang, knowledge come first…

        Buku yg ke berapa yah.. masih penasaran sayaπŸ™„

      • yuan December 11, 2010 at 11:17 pm

        sepertiny buku ke2, mas..πŸ˜€

  9. diah December 11, 2010 at 12:41 pm

    wah.. mas fathoni ini ternyata pecinta HP juga yah? =D

  10. diah December 11, 2010 at 12:52 pm

    hmmm.. klo gitu penggemar?πŸ˜€

  11. yuan December 11, 2010 at 10:31 pm

    @mas fath & dee
    hehe.. jadi pada ngobrol..πŸ˜€ kenalan gih.. biar tambah banyak saudara..πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: