Ketika Makna Tak Sampai

Pernahkan kita merasa bahwa apa yang kita sampaikan kepada seseorang tidak mampu terserap dengan sempurna? Apa yang kita sampaikan itu hanya diserap sebagian saja, seakan sebagian yang lain tercecer entah dimana. Atau malah lebh buruk, apa yang keluar dari mulut kita seakan tidak pernah sedikitpun sampai di telinganya.

Hal itu wajar saja terjadi. Dalam hemat saya, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi prosentase keberhasilan sebuah penyampaian. Pertama, potret diri penyampai. Kedua, cara penyampaian. Dan terakhir, kondisi psikologis si penerima. Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, potret diri. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan kita selalu melihat terlebih dahulu siapa yang menyampaikan, baru kita mau mendengar apa yang disampaikan. Track record buruk yang melekat pada diri seseorang sangat mempengaruhi kadar penerimaan orang lain. Semakin buruk track record si penyampai, maka kadar penerimaannya juga akan semakin rendah.

Tidak hanya track record yang berpengaruh, posisi juga seringkali sangat menentukan. Posisi dalam berbagai wujud: tingkat pendidikan, perbedaan usia, jabatan, dan lain sebagainya. Ketika kita merasa bahwa si penyampai memiliki posisi yang lebih rendah dari diri kita, maka dengan mudahnya kita memandang sebelah mata pada dirinya. Yang pada akhirnya membuat kita tidak mau mendengar dengan baik apa yang ia sampaikan. Kita merasa apa yang ia sampaikan itu tidak penting. Kita menganggap diri kita jauh lebih tahu darinya tentang segala hal.

Kedua, cara penyampaian. Pada dasarnya semua orang senang bila ia menerima penyampaian tentang sesuatu hal dengan cara yang baik. Tidak ada orang yang suka bila dibentak, atau menerima perkataan kasar. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa dengan legowo menerima sebuah penyampaian yang terkesan menyudutkan atau menyalahkan.

Walaupun memang ada kalanya penyampaian itu lebih efektif bila disampaikan dalam bentuk shock theraphy. Ketika si penerima telah begitu kukuh dengan dirinya sendiri, tidak mau berusaha mendengar pendapat orang lain, maka shock theraphy bisa jadi satu solusi yang tepat. Namun hal itu dilakukan dengan betul-betul mempertimbangkan segala sisi. Karena mungkin saja “harga” yang harus kita bayar akibat cara penyampaian dengan shock theraphy ini akan jauh lebih besar dari manfaat penerimaan yang kita harapkan.

Terakhir, kondisi psikologis si penerima. Sebuah hal biasa ketika disampaikan kepada orang yang tidak baik kondisi psikologisnya, boleh jadi mendapat respon yang tidak biasa. Di sini empati kita yang lebih berperan.  Kemampuan kita untuk merasai kondisi psikologis si penerima sangat dibutuhkan. Untuk bisa merasai, tentunya pengenalan terhadap diri penerima mestilah baik.

Sahabat, menyampaikan sesuatu dengan harap kebaikan pada diri orang lain, akan menjadi investasi amal kita di hari perhitungan kelak. Apalagi bila yang kita sampaikan itu dijalankan secara konsisten oleh penerimanya, tentu investasi amal kita juga akan semakin bertambah. Oleh karenanya, jangan sia-siakan nilai investasi itu karena kurang tepatnya kita dalam proses penyampaiannya. Berusaha lebih bijak dalam penyampaian, sambil terus memperbaiki diri agar potret diri menjadi lebih baik. Tidak hanya baik di mata manusia, namun jauh lebih penting dalam pandangan Sang Pencipta. Semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: