Ketika Lelah Melanda

Berbuat untuk diri pribadi seringkali terasa lebih mudah bila dibandingkan berbuat untuk orang lain. Ketika perbuatan itu ditujukan hanya pada diri, setiap rintangan yang menghalang menjadi kecil dengan kebesaran tekad yang kita patri. Karena kita betul-betul menyadari  arti pentingnya perbuatan yang ingin kita lakukan itu, khususnya bagi diri kita pribadi.

Ketika sebuah perbuatan ditujukan bagi orang lain, ada sisi keegoisan yang membuat aktivitas itu menjadi beban yang berat. Karena perbuatan yang kita lakukan itu seakan tidak berdampak langsung bagi diri pribadi. Bukankah selama ini kita sering membayangkan keuntungan yang akan diterima sebelum melakukan sesuatu? Mengharap balas yang belum tentu diperoleh?

Kondisi ini diperparah dengan sikap orang-orang yang dibantu kadangkala tidaklah sesuai dengan yang kita inginkan. Mereka seakan kurang menghargai apa yang telah kita lakukan. Hal-hal inilah yang membuat sisi-sisi kemanusiaan kita berontak. Merasa apa yang telah diperbuat sia-sia. Semua pengorbanan yang diberikan terkesan tiada artinya.

Sahabat, hidup untuk diri sendiri memang terkesan begitu mudah dijalani. Semua yang dilakukan hanya berfokus pada kepentingan diri. Tak perlu pusing dengan apa yang terjadi pada orang-orang sekitar.

Tapi apakah kita mampu hidup sendiri? Saya yakin tak seorang pun dari kita bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau pun ternyata ada yang mampu, tentulah hidup yang dijalaninya itu kurang lengkap. Minimal, ia tak akan pernah tahu bagaimana indahnya berbagi dengan orang lain.

Ya, berbagi itu indah. Sekecil apapun hal yang kita bagi itu pada orang lain. Misalnya, sebuah senyum tulus yang “dibagikan” oleh sahabat terdekat dapat membuat keresahan dalam hati kita berangsur sirna. Senyum itu akan menentramkan pikiran yang sedang kalut. Senyum yang mereka berikan mampu mendatangkan kesejukan, yang dengannya membuat diri kita secara tidak sadar juga akan ikut tersenyum, tanda bahwa hati kita bahagia.

Itulah sebuah bentuk keindahan yang termanifestasikan dalam hubungan antarmanusia. Menggambarkan keterkaitan antar tiap diri beda warna, beda rupa, beda kebutuhan. Yang dengan keterkaitan itu membuat kanvas kehidupan kita menjadi satu gambaran utuh yang nyaman untuk dilihat.

Contoh di atas barulah “sebuah” senyum. Bagaimana bila yang datang berupa bantuan, entah itu materi, tenaga, atau pikiran. Yang dengannya membuat beban-beban yang ada di pundak menjadi lebih ringan? Tentunya tidak hanya sebatas ucapan terima kasih yang keluar dari mulut kita. Namun dari hati yang terdalam juga “disuarakan” ungkapan syukur atas berlalunya masalah yang kita hadapi itu. Sebuah kesyukuran yang tentu saja tak akan terlewat begitu saja dari-NYA Yang Maha Mendengar.

Ketika kita memudahkan beban yang ditanggung orang lain, maka yakinlah bahwa suatu saat kelak akan ada orang lain yang memudahkan beban di pundak kita pula. Walau mungkin bantuan itu datang dari orang lain, yang tak pernah bersentuhan dengan kehidupan kita sebelumnya. Itulah bentuk jawaban dari-NYA, atas apa yang kita lakukan pada sesama hamba-NYA.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa ada saat dimana diri kita terasa begitu lelah. Ketika keterbatasan diri kita untuk berbuat bagi orang lain dihadapkan dengan harapan dan keinginan yang tak terbatas. Atau dibenturkan dengan batu sandungan yang tidak sedikit jumlahnya.

Maka sandarkanlah semua pada-NYA, Sahabat. Berbuatlah untuk meraih “senyum”-NYA. Karena IA tak akan pernah abai terhadap kita, para hamba-NYA. IA tak akan pernah menutup mata dari segala kebaikan yang kita perbuat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: