Mengoptimalkan Setiap Kebersamaan

Kita pernah ada. Namun menjadi ada tidaklah cukup.” Kutipan tersebut saya peroleh dari sebuah majalah sekitar 5 tahun yang lalu. Kutipan yang terus membekas di hati saya hingga kini, walau telah cukup lama saya membacanya.

Setiap kita, Sahabat, tentulah tidak tinggal sendirian. Ada orang lain yang membersamai kita. Entah itu keluarga, teman, ataupun rekan seprofesi. Mereka dan kita bercampur dalam sebuah kebersamaan. Sekarang yang menjadi pertanyaan,  sejauh mana kita dalam kebersamaan itu dirasakan keberadaannya. Yang menjadi ukuran di sini adalah seberapa besar peran kita membangun kebersaman itu ke arah yang lebih baik.

Ada orang-orang yang keberadaannya dirasa biasa-biasa saja. Ada dan tiadanya tidaklah berbeda. Ada pula orang-orang yang kehadirannya di tengah-tengah kita malah menimbulkan cibiran atau lirikan mata yang tajam. Orang-orang yang ketidakhadirannya menjadi sebuah kesyukuran.

Namun ternyata ada pula orang-orang yang ketika ia hadir membersamai, kita menjadi termotivasi untuk memaksimalkan segala daya upaya. Kita jadi terpacu untuk melakukan perbaikan. Ketika ia tidak berada di antara kita, seakan-akan ada yang kurang dari kebersamaaan yang dijalani.

Lalu termasuk tipe yang manakah kita, Sahabat? Saya yakin setiap orang akan memilih tipe yang terakhir. Tipe yang dirasa paling membawa kemanfaatan. Namun Sahabat, menjadi orang dengan tipe seperti ini tidaklah mudah. Tipe ini dicapai dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Ketika orang lain larut dalam masalahnya, ia tetap berdiri dengan tegarnya. Ia mengesampingkan segala gundah, hanya untuk dirinya dan Tuhannya. Kalaupun ada orang yang tahu tentang segala problema yang ia hadapi, itu bisa dihitung jumlahnya. Ia tidak akan mengumbar segala kegelisahan yang berkecamuk di dalam pikirannya.

Dengan senyum tulusnya, ia berusaha selalu merangkul setiap kegundahan yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Menjadikan mereka merasa tidak sendirian. Membuat mereka merasa nyaman menjadi diri mereka sendiri. Polos, tanpa kemunafikan.

Semoga kita mampu menjadi orang-orang seperti itu, Sahabat. Menjadi pribadi-pribadi yang begitu dirindukan. Agar keberadaan kita di dunia, tidak sekedar ada mengisi kekosongan. Agar kehadiran kita, memberi warna yang indah dalam kehidupan. Semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: