Diam yang Menenteramkan

 

Dalam hidup seringkali ditemui hal-hal yang membutuhkan respon dari kita, entah itu bentuk menerima atau menolak. Namun dalam hemat penulis, tidak semua hal perlu kita sikapi dengan kata atau perbuatan. Terkadang ada hal-hal yang hanya perlu kita sikapi dengan diam. Ya, cukup dengan diam.

Diam di sini bukanlah mengabaikan. Bentuk sikap diam menyatakan bahwa kita tidak membenarkan maupun menyalahkan. Kita tidak menganjurkan ataupun melarang. Segala bentuk pilihan dikembalikan kepada si pemilik tindakan.

Kadangkala sikap diam ini dibutuhkan agar kita belajar mengambil keputusan. Yang sulit dari sebuah keputusan bukanlah apa yang diambil, tapi lebih kepada sejauh mana kita berani memikul tangungjawab dari pilihan yang diambil. Selain itu sikap diam ini dibutuhkan untuk melatih kepercayaan diri, mengurangi ketergantungan pada orang lain.

Ketika sikap diam diambil, hendaknya kita tetap memperhatikan apakah si pemilik tindakan telah mampu menghasilkan sebuah keputusan atau tidak. Karena mungkin saja dengan sikap diam kita itu, ia menjadi larut dalam kebimbangan. Berpikir dan mempertimbangkan matang-matang untuk sebuah keputusan adalah baik. Namun akan menjadi kurang baik bila hal itu berlarut, menghabiskan begitu banyak waktu dalam hidup kita.

Bila hal ini terjadi, maka kita perlu membantunya. Minimal dengan memberi arahan kemana ia sebaiknya melangkah untuk menemukan sebuah keputusan, apapun bentuknya keputusan itu. Lalu biarkan ia mengambil keputusannya sendiri. Semoga kita lebih bijak dalam menyikapi setiap kejadian, Sahabat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: