Belajar Menjadi Makhluk Sosial

 

Berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai tipe karakter memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi walau bagaimanapun sulitnya, selama kita masih melabelkan diri sebagai makhluk sosial, maka sudah semestinya hal itu kita kerjakan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada alasan untuk mengabaikan karakter orang lain, seberat apapun kondisi yang kita hadapi. Pengenalan karakter pribadi yang kita “temani” berinteraksi, saya yakin adalah syarat utama keberhasilan setiap interaksi yang kita lakukan. Menyamaratakan setiap orang pada satu pola karakter tertentu bukanlah suatu sikap yang baik.

Pada dasarnya setiap orang ingin dimengerti. Dan di situlah letak sumber permasalahannya. Karena keinginan untuk dimengerti itu bersumber dari ego kita sendiri. Kita lupa bahwa lawan interaksi kita juga punya keinginan yang sama. Dan sebagai hasil akhir, sudah jelas bahwa interaksi tidak akan berujung baik. Antara dua hal, kita saling diam, atau malah jadi perang mulut. Perang mulut, yang mungkin saja akan berujung pada adu fisik. Tentu tidak ada seorangpun dari kita yang menginginkan hal itu.

Oleh karena itu, kita butuh sedikit menekan ego, memposisikan orang lain setara dengan diri kita. Ketika orang lain berada di posisi yang sama dengan kita, artinya ia berhak mendapat perlakuan yang sama seperti apa yang ingin kita terima. Nah dari itulah, kita akan lebih hati-hati dalam bersikap. Kalau kita tidak ingin dicubit, maka sudah semestinyalah kita tidak perlu mencubit orang lain. Bila kita tak senang mendengar kata kasar dari orang lain, maka tak perlu lah kiranya kata kasar itu keluar dari mulut kita sendiri. Sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain, maka begitu jugalah yang semestinya kita perbuat pada mereka.

Rasanya amat lah sia-sia bila banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang kita habiskan karena kurang tepatnya cara berinteraksi kita dengan orang lain. Suatu permasalahan yang semestinya bisa selesai dalam waktu singkat menjadi beban yang berlarut-larut karena ketidakmampuan kita berperan sebagai makhluk sosial yang baik. Semoga kita menjadi lebih baik dari hari ke hari, Sahabat..

2 responses to “Belajar Menjadi Makhluk Sosial

  1. muzammi November 18, 2010 at 2:10 am

    wah.. anda memang cocok sekali sebgai seorang psikolog.. hembzss
    dulu napa ndak ambil jurusan informatikan ke spikologian mas.. hehee
    tulisanya bagus-bagus…

    • yuan November 18, 2010 at 11:17 am

      klu diberi kesempatan, saya ingin belajar banyak tentang psikologi. tapi klu kemaren g ambil informatika, mgkn saya g akan pernah ketemu dengan Abdul dan saudara-saudara saya yang lain..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: