Menulis untuk dikenang

Mengapa kita menulis?

Kalau pertanyaan itu diajukan pada diri saya, maka akan saya jawab singkat : “untuk dikenang”.

Pepatah bilang, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.” Maka saya kelak hanya mampu meninggalkan nama. Saya tak tahu, nama apa yang saya sandang saat ini. Baik kah? Atau malah, buruk..? Semua itu tersimpan rapat di hati orang-orang yang pernah berinteraksi dengan saya.Terlebih lagi, apa yang telah saya perbuat – tentunya – tidak akan bisa diulang untuk diperbaiki. Apa yang telah lewat, akan tetap menjadi begitu adanya. Tidak akan pernah bisa diubah.

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi yang “buruk”, dan sebisa mungkin meningkatkan apa yang telah “baik”. Hmm, pernyataan yang terasa begitu umum. Walau saya yakin pernyataan ini adalah yang terbaik.

Hingga detik ini, sekian tahun sudah saya hidup di dunia, entah masih berapa tahun lagi yang tersisa. Mungkin hanya tersisa hitungan bulan, atau bahkan hari. Saya tak akan pernah tahu..

Hmm.. Karena itulah saya ingin menulis untuk dikenang. Saya ingin apa yang telah saya tulis menjadi penawar bagi yang telah “buruk” dan menjadi penyejuk bagi yang telah “baik”. Semoga bisa terwujud, sahabat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: