Okuribito, The gift of last memories..

“Jangan pernah meremehkan sebuah pekerjaan”. Ini salah satu pesan yang saya tangkap ketika menyaksikan film Okuribito (“Departures”, dalam bahasa Inggris),  film peraih Piala Oscar tahun ini dalam kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik”. Film yang – menurut saya – sangat sederhana dalam alur dan dialog, namun begitu menggugah hati..

Film ini bercerita tentang seorang pemain cello bernama Daigo Kobayashi. Bermain dalam sebuah orchestra adalah sebuah impian besar dalam hidupnya. Namun setelah hal itu tercapai, ternyata hanya berlangsung untuk sesaat saja. Penampilan perdananya adalah sekaligus yang terakhir. Karena setelah selesai tampil, grup orchestra tempatnya bernaung dinyatakan bubar oleh sang owner. Akhirnya Daigo merubah jalan hidupnya dengan menjual cello kesayangannya itu, dan kembali ke kampungnya untuk tinggal di rumah peninggalan sang ibu..

Di tengah kesibukannya mencari penghidupan baru, ia melihat lowongan di Koran tentang sebuah tawaran pekerjaan yang tidak butuh skill namun bergaji besar. Pada awalnya ia beranggapan bahwa pekerjaan yang ditawarkan itu semacam travel agency. Namun ternyata pekerjaan itu adalah “Nokanshi”, sebuah profesi “pengkafanan” jenazah. Tugas pertamanya adalah menjadi model “jenazah” untuk official video perusahaan tempatnya bekerja. Hal yang tidak mudah, namun berhasil dilewatinya juga dengan membawa “oleh-oleh” luka di pipi akibat sayatan pisau cukur dalam salah satu bagian prosesi pengkafanan. Tugas kedua lumayan berat: membantu mengkafani jenazah seorang perempuan tua yang sudah meninggal 2 minggu lamanya. Tugas yang berhasil juga dilewatinya dengan baik, walaupun terpaksa harus muntah-muntah akibat bau mayat yang menyengat. Setelah itu tugas demi tugas terselesaikan, yang akhirnya membuat ia menjadi seorang pengkafan jenazah yang profesional.

Namun, profesi pengkafan jenazah itu bukanlah sebuah pekerjaan yang dianggap layak oleh orang-orang kebanyakan. Sang istri dan teman akrabnya sendiri menjadi “musuh” terberat. Hingga akhirnya sang Istri memilih pulang ke rumah orang tuanya karena tidak setuju dengan pilihan profesi Daigo. Karakter Daigo sebagai seorang “pemendam perasaan” membuat ia tidak mampu terbuka dengan orang-orang terdekatnya. Namun seiring waktu, satu-persatu masalah yang terjadi mampu dihadapinya, dan film pun ber-ending bahagia.

Yup.. Film yang lumayan datar, namun bertemakan hal yang tidak biasa. Di film ini dapat kita lihat bagaimana budaya bangsa jepang dalam menghadapi sebuah kematian. Kematian diyakini sebagai gerbang menuju ke tahapan selanjutnya. Kematian juga dianggap sebagai potret kenangan terakhir, sehingga perlu diberikan hadiah yang terbaik, yang ditunjukkan dalam film ini dengan melakukan periasan tubuh dan wajah dengan tampilan yang terbaik, sebaik ketika almarhum masih hidup. Memberikan sebuah hadiah terakhir yang terbaik, sebelum sang jenazah akhirnya dibakar di tempat pembakaran mayat..

Profesi pengkafan jenazah, yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang, akan menjadi sangat berarti bagi sanak keluarga yang ditinggalkan. Profesi yang dipandang sebelah mata, sampai ketika kita membutuhkan bantuan “jasa”nya.

Begitu banyak profesi di luar sana yang terlihat sepele, namun bermanfaat besar bagi kita baik langsung ataupun tidak. Ambil contoh profesi dinas kebersihan yang setiap harinya mengumpulkan “limbah” rumah tangga di komplek tempat kita tinggal. Mari kita bayangkan bila satu hari saja petugas tidak menyambangi kita, maka sampah akan menumpuk. Tumpukan itu mungkin tidak seberapa bila tanpa dibarengi dengan bau yang menyengat akibat busuknya sampah-sampah organik yang ada di dalamnya. Bila dalam 2-3 hari tidak juga diangkut, mungkin akan timbul banyak lalat yang menghinggapinya. Dan tentunya akan menimbulkan resiko yang tidak kecil, bila ternyata sang lalat sempat “mampir” di hidangan kita. Sudah sepantasnyalah agar kita menghargai profesi-profesi “kecil” seperti ini..

Selain itu, profesi apapun yang kita jalani adalah baik, selama kita tekun menjalaninya. Kata kuncinya, dedikasi. Namun penulis yakin, dedikasi tidak akan pernah kita raih ketika kita tidak mampu memaknai dan mencintai sepenuh hati profesi yang kita jalani. Dengan dedikasi, maka semua beban yang dihadapi dalam dunia kerja akan menjadi lebih ringan. Semoga..🙂

** The Japanese title “Okuribito” means “the sending [away/off] people” (as in: people who send) – but this word is not normally used in Japanese.

6 responses to “Okuribito, The gift of last memories..

  1. 00.00.0023 November 25, 2009 at 4:40 am

    Dah lama gk komentar di blognya u1, tk liat2 t’akhir agustus 2008, dah setaun lbh hehehe

    wah ternyata dah nonton jg y? filmnya emg kyknya biasa2 aja, gk da gregetnya, beda banget waktu nonton ” Journey to the center of the earth” hehe
    tapi ternyata pesen moral dlm okuribito ini lumayan jg, seolah mengajarkan kpd penontonnya utk selalu menjadi seorang profesional, pun itu seorang pengurus jenazah, atau yg lebih kecil dari itu…
    sudah sepatutnya kita bljr utk menjadi profesional di bidang2 pekerjaan yg kita geluti, mulailh dari diri sendiri…

    btw, jd pengen tau pendapatnya u1, pilih mana 1,
    bekerja pd bidang perkerjaan yg kita sukai atau belajr menyukai bidang pekerjaan yg telah kita dpt? ^_^

  2. purpleheart November 25, 2009 at 1:43 pm

    @mbak riska
    dah nonton juga toh..?😀

    klu boleh pilih, sy akan belajar mencintai pekerjaaan yang memang sy sukai😀 tapi klu pilihan itu g tersedia, sy lebih memilih bekerja pada profesi yang nyaman di hati..😉

  3. 00.00.0023 December 5, 2009 at 6:19 pm

    hmmm gt y? klo t’nyata yg nyaman di hati pun g da py? ^_^

    btw, orang jepang itu integritasnya tinggi sekali y? tp kok msh bnyk yg bunuh diri y? pa mereka justru tertekn dgn integrits itu y?

    1, bbrp temen mo da rencana mendirikn sekolah alam, kita dmintain tlg buat konsepx, punya pandangan/ masukan g?

  4. yuan December 15, 2009 at 12:00 am

    hmm.. hard question.. coz i never be around them..😉

    klu tentang sekolah alam, coba kontak Dik Doank. Sy yakin beliau dengan senang hati merespon..🙂 kunjungi aja websitenya, Mbak –> http://kandankjurank.com/

  5. Vidya Alkaff Fitriyanto March 1, 2010 at 4:05 pm

    gLex..

  6. purpleheart April 14, 2010 at 9:55 am

    @alkaff😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: