Blind Eye, sisi kemanusiaan yang hilang..

Sekitar bulan Oktober 2007 lalu saya berkunjung ke rumah kakak di Jakarta Selatan. Awal kedatangan saya disambut dengan setumpuk buku koleksinya. Memang, beliau paham dengan kegemaran saya membaca buku. Dari sekian banyak buku yang disodorkan, saya tertarik dengan satu novel berjudul “Blind Eye“. Novel terbitan Dastan Books ini diangkat dari kisah nyata tentang seorang dokter yang “dituduh” membunuh puluhan pasiennya (kata “dituduh” diberi tanda kutip, karena hingga ditangkap ia tidak pernah terbukti membunuh seorang pun dari 60 orang yang diperkirakan oleh FBI).

Dua hal yang membuat saya “jatuh hati” dengan novel itu. Pertama, novel itu diangkat dari kisah nyata. Bisa dibilang novel ini adalah biografi dari sang dokter. Walaupun memang, novel ini tidak mengisahkan dari sejak lahir hingga ia mati. Toh, ia masih hidup sampai saat ini. Saya sejak lama senang membaca biografi orang lain, karena saya merasa lebih “nyaman” untuk menyelami pemikiran sang tokoh. Hal yang kedua, novel ini secara tidak langsung menggambarkan tentang sisi kejiwaan dari sang dokter. Hal yang menarik untuk ditelaah. Apalagi untuk kali ini yang digambarkan adalah sisi “psikopat”nya. Puluhan orang mati di “tangan”nya. Hmm.. Saya sering tak habis pikir, bagaimana seseorang mampu “menghabisi” nyawa orang lain dengan sebegitu entengnya, tanpa ada rasa penyesalan..

Kunjungan ke rumah kakak yang begitu singkat tak mampu memberikan saya waktu yang cukup untuk menyelesaikan novel itu. Akhirnya di bulan Mei kemaren novel itu bisa saya miliki, setelah sekitar 2 jam mengubek-ubek Gramedia Pontianak (dan membayar di kasir tentunya :p). Dan baru beberapa hari yang lalu saya berhasil menamatkannya.. Waktu yang sangat lama untuk menamatkan sebuah novel setebal 552 halaman..😐

Hmm.. Lembar demi lembar halaman yang saya baca semakin menegaskan pandangan awal saya tentang seorang psikopat : ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Sampai dengan peristiwa penangkapannya, sang dokter tidak pernah mengakui dirinya bersalah. Satu-satunya kesalahan yang diakuinya hanyalah pemalsuan dokumen. Kesalahan yang sangat ringan dibandingkan dengan kejahatan utamanya. Memang, kejahatan pembunuhan yang puluhan kali dilakukannya menggunakan media racun. Modus yang konon sangat sulit untuk dicari pembuktiannya, apalagi bila telah berlangsung cukup lama.

Bila merujuk ke wikipedia, maka bisa kita simak beberapa gejala psikopat sebagai berikut :
1. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
4. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
5. Sikap antisosial di usia dewasa.
6. Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
10. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar — bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah “dingin”.
11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Lebih lanjut, silahkan baca sendiri novelnya..😀 Cukup baik untuk kita jadikan bahan renungan tentang manusia yang “kehilangan” sisi kemanusiaannya.. Semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka. Amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: