Penting dan Perlu

Teman, kejadian apa pun yang kita alami, mau diakui atau pun tidak, sejatinya membutuhkan penegasan kita sebagai salah satu aktor yang terlibat di dalamnya. Penegasan ini bisa dalam bentuk penerimaan atau penolakan. Saya pribadi meniadakan opsi “abstain”. Selama ini saya meyakini – seperti apa yang pernah diungkapkan dalam sebuah pepatah – bahwa abstain itu adalah setengah dari penolakan. Ketika penegasan tersebut disikapi, saya melihat ada dua dimensi yang mempengaruhinya, yaitu apa yang saya sebut dengan dimensi “penting” dan “perlu”. Dimensi “penting” merujuk kepada sisi urgensitas. Sedangkan dimensi “perlu” lebih merujuk kepada peran atau kapasitas diri terhadap hal yang terjadi.

Dimensi-dimensi tersebut menurut saya mestilah dipertimbangkan matang-matang sebelum kita mengambil tindakan atas penegasan yang telah diambil sebelumnya. Karena tidak semua yang “penting” itu “perlu”. Begitu juga sebaliknya. Banyak orang yang merasa “penting” untuk menyikapi, namun ia berada pada dimensi “tidak perlu”. Tidak sedikit pula orang yang merasa “tidak penting” untuk menyikapi, padahal ia ada dalam dimensi “perlu”. Kondisi terbaik adalah ketika kedua dimensi tersebut bersinergi, artinya hal tersebut memang urgen, dan kita pun memiliki kapasitas diri yang cukup atas kejadian itu.

Bila kita berada pada dimensi “tidak penting” dan “perlu”, kita dapat menyusun strategi agar ketika kelak berada pada dimensi “penting”, kita telah memiliki solusi terbaik. Bila kita berada pada dimensi “penting” dan “tidak perlu”, maka kita hendaknya menemukan pribadi yang berada pada dimensi “perlu” untuk selanjutnya menyampaikan penegasan kita padanya. Lalu bagaimana bila kita berada pada dimensi “tidak penting” dan “tidak perlu”? Bila kita berada pada dimensi ini, hendaknya kita terus berusaha meningkatkan kapasitas diri, seraya menyusun langkah terbaik atas pemecahan masalah yang dihadapi. Sehingga ketika kelak berada pada dimensi “penting” dan “perlu”, kita telah menjadi pribadi yang mumpuni.

Moga bermanfaat..

(Kupang, the second day of the eclipse)

9 responses to “Penting dan Perlu

  1. Hyorinmaru January 25, 2009 at 2:10 pm

    Eh… klo ttg pemilu gmn?
    Milih ato abstain a.k.a “golput”?🙄

    * Going into contemplative mode…
    … done. *🙂

  2. yuan January 25, 2009 at 2:44 pm

    @hyorinmaru
    pemilu yang mana, Mas..?😉
    i still believe there’s a good person in this country..
    i’ll lay my hands on him..🙂

  3. pia January 28, 2009 at 3:57 am

    saat belanja juga selalu bertanya ma diri sendiri..
    penting g sih, perlukah?😆
    –kalo ttg pemilu, saya berbeda dengan yuan..

  4. yuan January 28, 2009 at 8:28 am

    @pia
    berbeda? he..he..he.. perbedaan itu yang bikin hidup kita jadi lebih berwarna..🙂

  5. yella January 31, 2009 at 3:31 pm

    buat saya bukan penting dan perlu, tapi penting atau tidak..
    makasih dah mampir🙂

  6. purpleheart February 1, 2009 at 2:51 am

    @yella
    Makasih juga dah mampir, Mbak..😀

  7. ilham sp February 11, 2009 at 3:07 pm

    ao mas yuan..
    ^-^ apa kabarnya?kapan maen ke jogja..
    masih perlu banyak nasehat+saran2 dari mas T_T

    visit my blog http://kita-kita.web.id

  8. senjapelangi February 23, 2009 at 2:09 pm

    ku link di blog baruku ya yu….thnks.
    senjapelangi.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: