A New Experience With Slackware 12.2

Sudah 2 rilis Slackware yang saya lewatkan selama kehidupan baru saya di kota Kupang: rilis 12 dan 12.1. Terakhir kali, sekitar bulan Februari 2008, Slackware 11 “tertanam” di PC yang saya gunakan semasa kuliah dulu. Ini adalah rilis ke sekian dari Slackware yang saya gunakan. Pertama kali kenal dengan Slackware sekitar tahun 2004, saya “tanam” rilis 9.1. Setelah itu saya sempat mencoba rilis 10, 10.1, dan 10.2. Selain Slackware, saya sempat pula “menanamkan” distro-distro yang lain. Sebut saja, RedHat 9, Mandrake 10, Fedora Core 2, BlankOn, SUSE 10, Mandriva 2007, dan Debian 3.1. Tapi semuanya tak ada yang bertahan lama. Awalnya distro-distro tersebut – secara bergantian – saya gandeng dengan Slackware, tapi karena jarang digunakan, maka partisinya saya alih-fungsikan menjadi media penyimpanan. Bukan karena distro-distro yang saya sebut barusan kurang baik, tapi lebih karena tipikal saya yang terbiasa dengan satu pola. Bila telah merasa “nyaman”, maka saya segan – lebih tepatnya tidak ingin – untuk beralih..πŸ˜‰

Maka dari itu distro live-cd yang saya gunakan untuk menyelesaikan skripsi kuliah juga merupakan “turunan” dari Slackware. Saya gunakan Slax 5.1.4 Server Edition. Awalnya saya mencoba distro turunan Debian, Damn Small Linux. Distro yang sangat ringan, dengan ukuran image “hanya” 50 MB. Tapi dalam prosesnya, aplikasi pendukung yang saya butuhkan untuk skripsi ukurannya hampir 2 kali besarnya distro tersebut. Jadi “overweight” deh..πŸ˜€ Karena itulah rencana tersebut saya batalkan, untuk selanjutnya kembali menggunakan “klan” Slackware..πŸ™‚

Kembali ke judul posting ini, saya ingin membagi pengalaman baru bersama Slackware 12.2. Tidak seperti rilis 11 yang hanya menggunakan 2 CD, Slackware 12.2 memiliki 3 CD installer. Di awal proses boot, kita diberikan saran untuk menggunakan kernel yang sesuai dengan spesifikasi PC yang digunakan. Seingat saya di versi 11, image kernel yang digunakan pada proses boot adalah default. Pilihan kernel waktu itu diberikan setelah selesai melakukan instalasi paket..

Setelah proses boot selesai, seperti biasa saya melakukan persiapan partisi dengan utility fdisk. Partisi siap, saatnya memulai proses setup. Menu setup masih menggunakan ncurses, dan tidak ada perubahan pada isi menunya. Proses setup berjalan seperti pada rilis-rilis sebelumnya. Namun tidak seperti rilis 11 yang hanya membutuhkan 3 GB, instalasi membutuhkan ruang kosong 4.5 GB untuk jenis instalasi full. Ketika proses ekstraksi berjalan, ternyata ada satu paket yang bermasalah. Paket ini berinisial “g’ pada menu aplikasi. Satu kesalahan saya waktu itu adalah tidak mencatat nama paketnya. Ketika ekstraksi sampai pada paket tersebut, proses tidak menjalankan apa-apa dan tidak juga memberikan pesan error. Setelah ditunggu beberapa waktu, keadaan tetap tidak berubah. Akhirnya saya hentikan paksa proses instalasi dengan menekan ctrl-d. Proses setup saya ulangi lagi dan ternyata tetap memberikan hasil yang sama. Kali ketiga instalasi, opsi full saya ubah ke pemilihan paket. Untuk paket tersebut tidak saya pilih, Alhamdulillah akhirnya setup berjalan lancar. Selanjutnya seperti biasa, setting network, instalasi lilo, pemilihan font dan daemon yang hendak diaktifkan. Ternyata ada satu proses yang hilang, yaitu pemilihan kernel. Mungkin kernel di awal boot tadi yang otomatis digunakan sebagai kernel pada sistem yang terinstall..

Masuk ke XWindow, saya pilih fluxbox melalui utilitas xwmconfig. My Favourite Window Manager. Ringan dan mudah diatur:D Banyak themes baru yang disediakan. Selain itu ada beberapa menu yang ditambahkan seperti aplikasi konsole dan file management berbasis konqueror. Dulu di rilis 11, menu file management tersebut saya tambahkan secara manual di file konfigurasi fluxbox. Alhamdulillah sekarang sudah disediakan..πŸ™‚

Proses setup selesai, trus PC di-reboot. Hmm.. Lilo yang digunakan ternyata sekarang dihiasi dengan wallpaper. Background hitam bertuliskan “Slackware Linux”.. So simple..πŸ˜€ Setelah proses boot selesai, selanjutnya adalah pengaturan VGA dan Sound Card. Masih menggunakan utility yang sama, xorgconfig untuk pengaturan VGA, serta alsaconf dan alsactl store untuk Sound Card. Satu lagi, pengaturan MySQL. Ada sedikit masalah ketika saya menjalankan perintah mysql_install_db. Muncul pesan error tentang tabel default yang dibuat. Saya coba abaikan pesan tersebut. Selanjutnya saya ubah kepemilikan di /var/lib/mysql. Kemudian saya setting user dan password MysQL dengan perintah mysqladmin, lalu saya jalankan mysqld_safe. Saya coba masuk ke menu MySQL, ternyata berjalan baik. Alhamdulillah..

Setelah puas dengan fluxbox, saya coba berpindah ke KDE. Hmm.. Sejauh yang saya lihat, tidak banyak yang berubah. Sekarang scroll mouse sudah diset secara otomatis.. Alhamdulillah.. Ini adalah salah satu bagian yang paling ribet dari pengaturan XWindow. Kalau di rilis 11, kita harus cari dulu manual mouse yang – kalau tidak salah – “tersembunyi” di dalam sub-sub direktori /usr. Terus baru kita edit file xorg.conf di /etc/X11/ untuk menambahkan opsi scroll pada mouse..😐

Satu lagi bagian yang penting untuk diatur dari sistem operasi Slackware adalah pengaktifan modul apm. Modul ini berfungsi agar PC dapat mematikan power ketika pengguna menjalankan perintah halt atau shutdown. Modul ini terletak di /etc/rc.d/rc.modules pada baris ke-190. Cara mengaktifkannnya cukup mudah, kita tinggal menghilangkan tanda “#” di depan baris tersebut.

Saya mencoba melihat apakah modul apm telah berjalan dengan baik. Saya jalankan perintah halt, ternyata PC tetap menyala setelah mengeluarkan pesan power-off. Mestinya setelah pesan power-off keluar, PC akan mati secara otomatis. Saya coba reboot, kemudian saya login dan menjalankan perintah halt. Ternyata hasilnya masih sama. Saya coba reboot dan login lagi. Kemudian pada shell saya ketikkan modprobe apm, lalu saya jalankan perintah halt. Alhamdulillah, PC bisa mati secara otomatis. Sampai sekarang saya masih gunakan “trik” ini agar PC bisa mati secara otomatis. Moga ke depannya saya bisa temukan inti masalah serta solusi yang lebih baik untuk menyelesaikannya.. Amiin..

Hmm.. Saya baru ingat ada satu hal yang cukup menyenangkan pada rilis 12.2 ini, yaitu HAL telah berjalan cukup baik. Memang, kita masih perlu mengedit file fstab di /etc untuk mengatur cdrom dan flashdrive, khususnya masalah kepemilikan. Secara default, cdrom adalah milik owner atau dalam hal ini adalah root. Makanya perlu kita ubah menjadi users agar pengguna biasa dapat menggunakannya. Opsi “ro”/”rw” tinggal kita sesuaikan dengan media yang digunakan. Nah, untuk flashdrive, kita perlu menambahkan baris baru. Untuk mudahnya, ikuti saja isi baris pada konfigurasi cdrom tadi. Yang perlu diubah adalah kolom pertama, kedua, serta keempat. Pada file konfigurasi tersebut, saya gunakan /dev/sda1 pada kolom pertama dan /mnt/sda pada kolom kedua. Direktori /mnt/sda tersebut adalah direktori yang perlu dbuat secara manual, karena sistem tidak menyediakannya secara otomatis. Kemudian pada kolom ke-empat, opsinya dibuat “rw” agar flashdrive tersebut bisa diakses dalam mode baca-tulis. Setelah file fstab selesai dikonfigurasi, saya coba jalankan XWindow dengan Window Manager KDE. Saya jalankan CD dan colokkan flashdrive, alhamdulillah semua bisa berjalan sesuai dengan yang saya harapkan. Pada rilis 11, penggunaan flashdrive yang berbeda pada satu sesi login akan membuat sistem mengenal tiap flashdrive tersebut sebagai perangkat yang berbeda. Sehingga bila ada 2 flashdrive, maka sistem akan mengenali flashdrive pertama dengan /dev/sda1 dan flashdrive kedua dengan /dev/sdb1. Namun pada rilis 12.2, semua flashdrive yang digunakan akan dikenali sebagai perangkat yang sama, yaitu /dev/sda1. Ini terlihat bila kita menjalankan perintah dmesg pada shell. Tentunya hal ini akan berbeda bila kita menggunakan 2 flashdrive di waktu yang bersamaan.

Demikian pengalaman baru saya bersama Slackware 12.2. Sebagai seorang NewBie, alhamdulillah Slackware 12.2 cukup memberikan kemudahan bagi saya..πŸ™‚ Sharing dari teman-teman saya tunggu..πŸ˜€

16 responses to “A New Experience With Slackware 12.2

  1. Hyorinmaru January 8, 2009 at 3:05 pm

    Membuat saya terkenang akan masa yg telah lama berlalu. Slackware saya yg pertama, rilis 7. Setelah itu 8 series dr INFOLINUX, disusul 9 dan 10 series. Tentu 11 juga dan akhirnya stuck ama 12.1 sekarang.
    Saya sreg ama Slackware sejak kira-kira mid 2000an mungkin. Yah, ketika saya memutuskan hijrah sepenuhnya ke Linux. Sesekali masih sempet nyoba distro laen, tetapi yaa gitu dech, selalu balik lagi ke Slackware. Always…😎
    Yang jelas, gak pernah balik lagi ke Windows hihi…:mrgreen:
    Sekarang teuteup Slackware ma SLAX 6.x untuk keperluan “khusus”. Moga ntar ada waktu utk berbagi cerita ttg itu..πŸ™„

  2. mrp January 10, 2009 at 2:44 pm

    Wah senengnya yach.. kalo saya mah skrg bisa install aja udah syukur… abisnya kebiasaan klik 2 kali icon install to hard drive..😦 lanjut dengan next dan next akhirnya reboot dan selesai.. ada apa dibelakang installer juga ngga ngerti.. bagaimana device bs ter mount juga ngga ngerti… sekali lagi.. sedihnya!!!

  3. yuan January 10, 2009 at 2:58 pm

    Wah klu mas Mada aja bilang begitu.. apalagi newbie kaya’ saya..πŸ˜€

    contemplative mode = on

  4. hyorinmaru January 10, 2009 at 6:46 pm

    @ yuan + mrp:
    Wedew…
    Yg satu udah bikin distro khusus utk forensik, yg satu karyanya online (klo karya saya khan gak)…
    Orang-orang yg rendah hati… patut saya teladani agar kelak saya bisa membuat karya yg bermutu…πŸ™„

  5. dodoy January 11, 2009 at 6:18 pm

    Sekarang komputerku juga dah di install Slackware 12.2 dahulu Mandriva. (W** juga masihπŸ˜€ )
    kemarin “bantu” Devid Install slackware di laptopnya kurang dari 1/2 jam.πŸ™‚
    inget dulu ketika pake komputer P1 install slackware dah luama…. eh listriknya turun!😦

    kapan main ke Jogja?

  6. yuan January 12, 2009 at 11:31 am

    @dodoy
    Ke Jogja? InsyaALLAH bila da kesempatan..πŸ˜€

  7. asyhadione January 15, 2009 at 4:41 am

    wah…. ajarin atuh gimana cara install slackware..

    duh devid… gmn atuh kabarnya?

    kapan atuh mas maen ke pulo jawa lagi?

  8. dodoy January 15, 2009 at 10:19 pm

    @ asyhadione

    Devid baik2 aja mas Noor.

    gimana? mau nitip salam ga?
    πŸ™‚

  9. Hyorinmaru January 17, 2009 at 8:01 am

    @ dodoy:
    Ntar kalo ana ke Djogja, ajarin juga ya akh..πŸ™„

  10. pia January 20, 2009 at 5:11 am

    g ngerti,
    gaptek tingkat tinggi.. 😦

  11. yuan January 20, 2009 at 11:34 am

    @ pia
    sama koq.. saya juga gaptek.. ni baru belajar..πŸ˜€

  12. andri gondrek - balai4 January 21, 2009 at 1:54 pm

    yuan….seneng bisa ketemu blog kamu, sory baru sempat mampir. biasanya yang kebuka cuma kaskus,jawapos.com,kompas.com,detik.com..

    aku ajarin berlinux linux yuan..,ni sudah ada suse 11

    banyak yg belum aku tahu tentang command2 di terminal,symlink,grep,dll

    ajarin yaah…

  13. robby January 22, 2009 at 7:43 pm

    untuk mati otomatis jgn gunakan kernel smp
    buat simlink ke vmlinuz.huge-2.6.27.7 di folder boot

    buat jg symlink ke rc.modules-2.6.27.7 di folder etc/rc.d/

    lalu hilangkan # di seting apm

    reset lilo.
    πŸ™‚

  14. yuan January 23, 2009 at 12:20 am

    @andri
    makasih dah berkunjung:) Ajarin linux..? wah, g kebalik tuh..? Saya baru belajar koq..πŸ˜€

    @robby
    makasih banget untuk tipsnya.. ntar saya coba..πŸ™‚

  15. tri May 16, 2009 at 12:55 pm

    Bos… bisa minta tolong buat instal slackware di laptop byonM31W

  16. purpleheart July 26, 2009 at 3:14 pm

    @tri

    coba gabung aja di milis slackware indonesia
    alamatnya di http://groups.google.com/group/id-slackware

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: