Kuliah, Lulus, Kerja..

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat melewati ujian tahap akhir dari pergulatan studinya di perguruan tinggi. Sebuah moment paling dramatis yang dilalui oleh seorang mahasiswa. Walau setelahnya, masih begitu banyak agenda-agenda yang mesti dilalui untuk dapat menyandang gelar sebagai seorang sarjana, yang itu mungkin saja tak kalah dramatisnya. Namun memang, moment ini sangatlah berkesan bagi kebanyakan mahasiswa. Bagaimana tidak, segenap waktu, tenaga, emosi, dan pikiran yang telah difokuskan selama berbulan-bulan – atau bahkan bertahun-tahun – lamanya memuncak pada satu titik. Sungguh, melegakan ketika berhasil melewatinya.. Semua menjadi terasa begitu ringan..

Tapi ringan yang baru dirasakan untuk beberapa waktu, bukanlah berlaku statis. Ia dinamis yang aktif.. Saya pikir hal itu adalah salah satu bentuk hukum alam, dimana ketika seseorang mampu menghadapi ujian, maka ia akan diberikan ujian yang lebih besar. Dalam hal ini, lulus dengan predikat seorang sarjana memberikan konsekuensi yang tidak sedikit bagi para penyandangnya. Pertama, kita – oleh masyarakat – dianggap orang yang mumpuni dalam bidang yang kita tekuni. Orang tidak akan mau tahu sejauh mana kapabilitas kita yang sebenarnya. Hal ini juga berefek kepada almamater darimana kita berasal. Kemana pun kaki kita melangkah, pundak kita akan “dibebani” oleh citra kampus dimana kita menimba ilmu. Maka mau tidak mau kita harus pandai-pandai menjaga citra itu dengan meningkatkan kemampuan yang kita miliki, minimal mendekati apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Kedua, perubahan suasana yang cukup signifikan. Hal ini tidaklah mudah untuk kebanyakan orang. Hidup di sebuah lingkungan dan bergaul dengan banyak orang dengan pola hidup tertentu selama sekian tahun, jelas telah menimbulkan sebuah ikatan dalam diri kita. Kita telah “terlenakan” dengan suasana yang ada. Maka akan timbul sebuah “keengganan” dalam diri kita untuk beranjak.  Seperti halnya orang yang tidur sekian jam, maka untuk bangun dan beraktivitas lagi menjadi satu hal yang “berat” untuk dilakukan.

Ketiga, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Jelas, setelah kita lulus, ada rasa enggan dalam diri kita untuk terus menggantungkan kebutuhan hidup kepada orang tua. Ada semacam “keharusan tak tertulis” bagi kita untuk belajar memenuhi kebutuhan itu. Artinya, kita harus bekerja, entah itu dengan mencari kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Itulah fakta-fakta yang saya alami ketika saya lulus dari bangku perguruan tinggi setahun yang lalu. Saya teringat pada moment si sekitar wisuda. Ucapan “Welcome To The Gate of Hell”, “Welcome to The Real World”, dan ucapan-ucapan lain yang senada cukup sering terdengar.. Awalnya saya pikir itu adalah satu bentuk percandaan sesama teman, yang biasa kami lakukan sehari-hari. Namun apa yang dikatakan itu ternyata memang benar adanya.. Saya hanya berusaha untuk menyikapinya dari sisi yang positif, bagi saya inilah moment besar sebagai langkah awal bagi saya untuk menjadi seorang pribadi yang utuh.

Ketika saya diterima di salah satu instansi pemerintahan, saya menemukan satu fakta baru. Ketika bekerja, kita dituntut untuk bersikap dan berpola pikir dewasa. Saya teringat sebuah pepatah pernah mengatakan: “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.” Hmm.. Umur terus bertambah, usia semakin berkurang. Namun hal ini tidak lah selalu berbanding proporsional dengan tingkat kedewasaan seseorang. Menjadi dewasa adalah satu proses yang mesti diusahakan. Sekali lagi di sini, opini masyarakat sangat memegang peranan. Umur yang bertambah, itu artinya kita dituntut memiliki taraf kedewasaan yang sesuai dengan standar yang dilekatkan masyarakat untuk periode usia tersebut. Ketika di bangku kuliah, kita masih dianggap peralihan antara remaja menuju dewasa. Namun setelah lulus, orang akan beranggapan bahwa kita adalah orang yang telah dewasa (secara usia). Itu adalah sebuah harga yang mutlak.

Satu yang saya yakini, setiap langkah yang saya lalui adalah sebuah proses menuju arah yang lebih baik. Mungkin ada satu dua langkah keliru yang kita ambil, itu adalah sebuah kewajaran. Yang penting, kita mau untuk terus belajar, memperbaiki yang kurang, dan mau menerima masukan serta kritikan orang lain. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Amiin..

NB : This post is dedicated for my best friend.. May ALLAH SWT always be with you..

6 responses to “Kuliah, Lulus, Kerja..

  1. hyorinmaru November 22, 2008 at 8:27 pm

    Loh, koq lum ada yg koment di sini❓
    Wah, pertamax kalo gitu ^^

    …Welcome To The Gate of Hell…

    Yup, it is really “The Hell”.
    Memang tidak mutlak, atau tidak selalu maksud saya; namun serius, benar-benar ada saat di mana saya merasa berada di “The Hell”. Tentu saja ini kias/majaz… (ntar da yg sensi trus nganggep saya keterlaluan, trus nasehatin via SMS bla, bla, bla… Hehe, ngelirik ke someone nun jauh di sana; bukan Yuan loh).

    Ah, itulah dunia; tempat segala yg menyenagkan dan yg menyusahkan dipergilirkan.

    contemplative_mode_still_set=1;🙄

  2. hyorinmaru November 22, 2008 at 8:29 pm

    Betapa ganjilnya…❓
    Koment saya di artikel ttg wawancara masuk langsung, yang ini “awaiting moderation”. What is this really…❓

    So?

  3. purpleheart November 23, 2008 at 8:27 am

    @hyorinmaru
    Familiar dengan istilah “pertamax” juga toh..?:D

    “The hell”.. Buat yang belum atau baru masuk di “level” ini, persiapkanlah diri sebaik2nya..
    Karena memang tidak mudah..

    Tapi, api itu tidak selamanya “panas” koq..🙂
    Dan “pembakaran” yang dilakukannya seringkali baik bagi diri kita selama kita mampu menyikapinya dengan positif..🙂

  4. dodoy November 23, 2008 at 8:11 pm

    jadi pengen cepat lulus kuliah nih.. ,trus… ,trus..
    Semoga berjalan sesuai yang di harapkan. amin
    SEMANGAT!!!

  5. wmk'70 November 24, 2008 at 9:33 am

    Thank For ALLAH SWT atas segala karunia yang telah di berikan.

    Thank to rekan-rekan atas do’a yang telah membersamai perjuangan selama ini, khususnya saat-saat yang menegangkan kemarin.

    Thank to someone atas izinnya untuk posting disini.

    Tetep Semangat, ALLAH SWT selalu bersama kita.

  6. asyhadione December 2, 2008 at 9:48 am

    yaph, waktunya cari kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: