Sang Penghibur..

Iya, itu adalah judul sebuah lagu dari band papan atas Indonesia yang baru saja di-launching akhir-akhir ini. Istilah yang sederhana, tapi punya banyak makna. Seringnya dimaknai dengan konotasi negatif, tapi – mungkin – akan berbeda bila kita mampu berpikir sedikit lebih terbuka. Mau “mencoba” untuk melihat dari banyak sisi, tidak hanya dari hitam atau putih belaka. Karena teman, dunia yang kita huni bersama ini sangat penuh dengan warna..

“Sang Penghibur”.. Sekilas ketika mendengarnya, syaraf otak kita akan segera mengacu kepada panasnya kehidupan malam. Lalu dengan cepat kita akan mengasosiasikan istilah tersebut kepada para pekerja seks komersial. Teman, cobalah untuk menahan laju otak kita sesaat. Ubahlah latar kehidupan malam menjadi kehidupan siang atau taman-taman hiburan, apa yang kita temukan? Ternyata asosiasi tadi berubah, dari para pekerja seks komersial menjadi para badut dengan pakaiannya yang lucu yang mampu membuat senyum-senyum merekah dari bibir anak-anak kita. Lebih jauh lagi, pernahkah kita menyadari bahwa tugas kita di dunia ini adalah untuk “menghibur” umat manusia? Membawa kebahagiaan dalam sisi kehidupan orang-orang yang kita temui? Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa kita punya kewajiban untuk membagi masakan yang diolah kepada para tetangga kita, ketika bau masakan itu tercium oleh mereka. Coba kita bayangkan, bagaimana sedihnya mereka ketika bau masakan tercium tanpa mampu tersampai ke indera pengecap mereka? Ternyata teman, amat sangat luas konteks yang dapat dimaknai dari sebuah istilah, ketika kita mau mencoba untuk berpikir sedikit lebih terbuka..

Teman, hidup yang kita jalani bersama di dunia bukanlah “hidup kita sendiri”, tapi “hidup kita bersama”. Begitu banyak sisi-sisi kehidupan kita yang – disengaja ataupun tidak – akan bersinggungan dengan orang lain. Ketika kecil, sewaktu kita hanya bisa menangis untuk meminta “perhatian” dari orang tua sehingga mereka bergegas untuk memenuhi kebutuhan kita, tangis yang keluar dari mulut kita akan dimaknai secara positif oleh orang-orang yang menyayangi kita. Tapi belum tentu akan dimaknai sama oleh orang lain yang ketika itu tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan diri kita. Apalagi misalnya mereka dalam keadaan menderita sakit gigi yang – tentunya – akan sangat rentan dengan bunyi-bunyian “di atas ambang batas normal”. Contoh lain, ketika kita berada di dalam bus yang penuh sesak, lalu dengan santainya menyalakan sebatang rokok (red: Peringatan pemerintah, merokok dapat merusak kesehatan🙂 !), bagi para perokok – atau yang terbiasa dengan dunia perokok – tentunya tidak akan terganggu. Tapi lain halnya dengan mereka yang punya hidung sensitif. Mereka akan sangat merasa tersiksa penciumannya. Atau, keputusan untuk kuliah di daerah lain, yang kita rasakan adalah yang terbaik bagi diri kita. Hal itu mungkin akan dirasakan berbeda oleh orang tua dan saudara-saudara kita. Setidaknya mereka akan merasa kehilangan, dan – lebih jauh lagi – mereka akan “terbebani” dengan naiknya biaya hidup yang mesti mereka tanggung.

Teman, “nilai” kita di hadapan Sang Pencipta dan sekalian makhlukNYA adalah sejauh mana kita membawa kemanfaatan. Tentunya kemanfaatan dalam arti yang luas. Adalah baik bila kita mampu membawa “kemanfaatan ruhani”, tapi tentunya akan timpang bila tanpa disertai kemampuan untuk membawa kemanfaatan dari sisi jasadi. Hidup itu tidak hanya berisi “ritual” ibadah sehari-hari. Cobalah kita hitung dalam satu hari di kehidupan kita, berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama orang lain. Sangat banyak, bukan?! Dari waktu-waktu yang kita lewati tersebut – tanpa kita sadari – tentunya akan sangat banyak “peluang” bagi kita untuk menyinggung perasaan orang lain. Entah dari perbuatan, perkataan, atau bahkan – mungkin hanya – dari tatapan mata yang tajam atau sebuah lirikan yang menyelidik..

Teman, di sini saya mengajak agar mau melihat lebih jauh lagi ketika kita akan mengambil sikap, sekecil apapun sikap itu. Menganalisa apakah sikap yang akan kita ambil itu mampu “menciderai” hak atau “mengikis” kebahagiaan orang lain. Tak peduli siapapun ia, sekecil apapun kontribusinya bagi kehidupan kita..

Alangkah indahnya dunia yang kita tempati bersama ini ketika kita mampu saling menjaga hak dan kebahagiaan orang lain.. Semoga..

(Dini hari, 09122007)

One response to “Sang Penghibur..

  1. hyorinmaru December 9, 2007 at 4:19 am

    Kadang kala Bro… orang itu (ngakunya) udah open minded atau udah melihat dari sebanyak mungkin sisi/aspek… Tetapi, tetap saja kita semua sangat mungkin berbeda fokus; atau berbeda titik berat, atau berbeda kecenderungan…
    Btw, artikel yg ini oke punya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: