Ketika Takdir Bicara

Namanya Dino. Ia tinggal di sebelah rumahku. Ia anak baru di sini. Kira-kira setahun yang lalu, ia pindah bersama keluarganya ke daerah ini, tepatnya ke Gang Wortel, di mana aku tinggal selama lebih kurang 17 tahun.

Walaupun ia seusia denganku dan merupakan tetanggaku terdekat, aku jarang berjumpa dengannya. Sejujurnya aku kurang suka dengannya. Penampilannya yang selalu urakan dan gaya bicaranya yang kasar sering menjengkelkan hatiku. Setiap berbicara dengannya, tak pernah sekalipun perkataan kasar absen dari telingaku.

Sejak aku bergabung dengan MJ, kependekan dari Miftahul Jannah – ROHIS di sekolahku, aku semakin jarang berinteraksi dengannya. Kesibukanku dalam belajar dan kegiatan-kegiatan MJ yang selalu mengisi waktu-waktu senggangku membuat jalinan persahabatanku dengannya semakin renggang. Terakhir kudengar ia bergabung dengan Geng PB. Pada awalnya kukira PB adalah singkatan dari Putra Bangsa, nama sekolah tempat kami menimba ilmu. Namun, “astaghfiruLlah,” aku berucap, tatkala tahu bahwa rupanya PB itu kependekan dari Putau’s Boys. Kumpulan anak–anak pecandu Putau !!!
***

“Din, tidakkah kau sadar kalau bubuk itu akan merusak kesehatanmu” tegurku padanya suatu ketika. “Usil banget, sih! Elo udah ngerasa hebat, ya!” ucapnya menjawab teguranku. “Bukan begitu, Din. Tidakkah lebih baik bila Kau isi hari-harimu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Mumpung Kau masih muda.” Aku berusaha untuk mengingatkannya. “Sok suci, Lo Rif. Mentang-mentang Lo gabung ama MJ, sekarang Lo udah berani nasehatin gue.” jawabnya menimpali perkataanku. ”Aku sahabatmu, Din. Aku hanya …” ucapanku terhenti akibat pukulan tangan kanannya yang tak sempat kutangkis mendarat tepat di pipi kiriku. “Sudah cukup kesabaran gue, Rif. Kalau Elo ngomong macam-macam lagi, pipi Elo yang satunya lagi nggak akan bisa selamat dari bogem mentah gue.” Sambil menahan rasa sakit aku segera meninggalkannya. Tak pelak lagi, hal itu semakin membuatku menjauh darinya.

***

Semakin hari kulihat tingkahnya makin tak terkendali. Kudengar semenjak naik ke kelas tiga, ia menjadi bandar putau di sekolah. Tentu saja perilakunya itu menjadi pembicaraan teman-teman di sekolah. Tak terkecuali di Musholla Al-Mukminun, markas MJ.

“Assalamu’alaikum. Bagaimana kabar Dino, Rif?” ucap Ridwan, sang nakhoda MJ membuka percakapan siang itu. “Wa ‘alaikumussalam. WaLlahu a’lam, Akhi.” Jawabku singkat. “Akhi ini bagaimana? Bukankah ia tetangga Antum. Ingat Akhi, tetangga itu adalah saudara kita yang paling dekat.” Timpalnya mengingatkanku. “Ana paham hal itu. Mungkin karena ana terlalu sibuk, sehingga ana melupakannya.” Jawabku. Sebenarnya hatiku sudah mengeras terhadap Dino, akibat kejadian hari itu. Aku benar-benar tidak peduli lagi dengannya. Aku sudah bertekad untuk tidak mau campur tangan lagi dalam sis-sisi kehidupannya.

“Oh, ya. Jangan lupa acara kita nanti malam. Ana pulang dulu. Assalamu’alaikum.” Perkataan Ridwan yang beruntun bak suara tembakan senapan mesin menyadarkanku dari lamunan. “Wa’alaikumussalam,” jawabku lemah.

***

Malam itu aku mengikuti mabit di Masjid Shabirin, Masjid Raya di kotaku. Ustadz SyaifuLlah mengisi muhasabah ba’da shalat lail.

“Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya di dunia. Sekecil apapun amalan kita pasti akan dibalas oleh Allah. Yang baik maupun yang buruk. Selemah-lemah iman adalah hati yang menolak kemaksiatan. Tapi kebanyakan dari kita malahan membiarkan kemaksiatan itu terjadi. Maka sesungguhnya kita telah berdosa kepada Allah.” Seketika itu juga aku teringat pada Dino. “Ya Allah, aku minta ampunan kepada-Mu. Seharusnya aku menyadarkannya. Tapi aku malah melupakannya. Menganggapnya bukan merupakan bagian dari lingkaran ukhuwah ini. Padahal ia adalah saudaraku seiman, yang harus aku selamatkan dari panasnya api neraka. Allahumma Anta robbi. La ilaa ha illa Anta. Khalaqtani. Wa ana ’abduKa. Wa ana ‘ala ‘ahdiKa. Wawa’diKa mastato’tu. A’udzubiKa min syarrima sona’tu. Abu u laKa bini’matiKa ‘alayya. Wa abu u bidzanbi. Faghfirli. Fa innahu la yaghfirudz-dzunuuba illa Anta.” Sayyidul istighfar yang kuucapkan menjadi saksi akan azzamku untuk memperbaiki kesalahanku pada Dino.

Ba’da Shubuh kami semua pun bubar. Aku bertekad untuk segera bertemu dengan Dino. Aku ingin minta maaf padanya. Namun ternyata aku terlambat. Sesampainya di rumah, aku mendengar berita duka mengenai dirinya. Rupanya ia telah dipanggil ke hadirat Ilahi Robbi dua jam yang lalu karena O.D. InnaaliLlaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Tak terasa air mata menetes di pipiku. Maafkan aku, sahabatku. Sungguh aku telah salah karena meninggalkanmu. Semoga kau berada dalam naungan maghfirahnya. Amiin ….

Ptk, 7 Jumadil Ula 1423 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: