“Jangan pernah meremehkan sebuah pekerjaan”. Ini salah satu pesan yang saya tangkap ketika menyaksikan film Okuribito (“Departures”, dalam bahasa Inggris),  film peraih Piala Oscar tahun ini dalam kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik”. Film yang – menurut saya – sangat sederhana dalam alur dan dialog, namun begitu menggugah hati..

Film ini bercerita tentang seorang pemain cello bernama Daigo Kobayashi. Bermain dalam sebuah orchestra adalah sebuah impian besar dalam hidupnya. Namun setelah hal itu tercapai, ternyata hanya berlangsung untuk sesaat saja. Penampilan perdananya adalah sekaligus yang terakhir. Karena setelah selesai tampil, grup orchestra tempatnya bernaung dinyatakan bubar oleh sang owner. Akhirnya Daigo merubah jalan hidupnya dengan menjual cello kesayangannya itu, dan kembali ke kampungnya untuk tinggal di rumah peninggalan sang ibu..

Continue reading ‘Okuribito, The gift of last memories..’



Sekitar bulan Oktober 2007 lalu saya berkunjung ke rumah kakak di Jakarta Selatan. Awal kedatangan saya disambut dengan setumpuk buku koleksinya. Memang, beliau paham dengan kegemaran saya membaca buku. Dari sekian banyak buku yang disodorkan, saya tertarik dengan satu novel berjudul “Blind Eye“. Novel terbitan Dastan Books ini diangkat dari kisah nyata tentang seorang dokter yang “dituduh” membunuh puluhan pasiennya (kata “dituduh” diberi tanda kutip, karena hingga ditangkap ia tidak pernah terbukti membunuh seorang pun dari 60 orang yang diperkirakan oleh FBI).

Dua hal yang membuat saya “jatuh hati” dengan novel itu. Pertama, novel itu diangkat dari kisah nyata. Bisa dibilang novel ini adalah biografi dari sang dokter. Walaupun memang, novel ini tidak mengisahkan dari sejak lahir hingga ia mati. Toh, ia masih hidup sampai saat ini. Saya sejak lama senang membaca biografi orang lain, karena saya merasa lebih “nyaman” untuk menyelami pemikiran sang tokoh. Hal yang kedua, novel ini secara tidak langsung menggambarkan tentang sisi kejiwaan dari sang dokter. Hal yang menarik untuk ditelaah. Apalagi untuk kali ini yang digambarkan adalah sisi “psikopat”nya. Puluhan orang mati di “tangan”nya. Hmm.. Saya sering tak habis pikir, bagaimana seseorang mampu “menghabisi” nyawa orang lain dengan sebegitu entengnya, tanpa ada rasa penyesalan..

Continue reading ‘Blind Eye, sisi kemanusiaan yang hilang..’


Beberapa waktu yang lalu, PC saya mengalami masalah.. Awalnya terasa performance-nya melambat. Saya coba “akali” dengan mengganti distro yang terinstall. Dari Slackware 12.2 saya ganti menjadi Zenwalk 6.0 standard edition. Solusi ini mampu berjalan kurang lebih 2 bulan. Akhirnya PC saya “menyerah” juga. Diawali dengan ketidakmampuannya membaca perangkat hard drive, lalu “merambat” ke LAN card, diakhiri dengan Power Supply yang mati total. Hmm..

Saya coba ganti dengan Power Supply yang lain. Tapi tetap g berpengaruh banyak, hard drive dan LAN card tetap tidak terbaca. Bila “cuma” hard drive yang tidak terbaca, masih bisa “diakali” dengan menggunakan Distro Live CD. Tapi kalau LAN yang bermasalah, jadi repot urusannya. Bakalan g bisa online deh di rumah.. :(

Akhirnya saya coba cari motherboard dan processor second di kaskus. Alhamdulillah dapat juga yang sesuai dengan kebutuhan. MB Biostar + Duron 1,1 seharga 150 ribu rupiah. Jadi saya g perlu keluar uang lebih banyak untuk upgrade perangkat yang lain.. :D

Kali ini saya kembali menginstall Slackware 12.2 untuk membandingkan performansinya dengan MB + Proccie yang lama. Alhamdulillah cukup terasa bedanya.. :) Bagi kebutuhan saya saat ini, performance yang ada sudah lebih dari cukup. Moga PC yang sekarang bisa bertahan lebih lama dari yang sebelumnya.. Amiin..


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Setelah lama “vakum”, akhirnya serpihan-serpihan semangat “berhasil” saya kumpulkan.. Saya mulai dengan mengganti “wajah” dari blog lama. Hmm.. Beberapa ide tulisan telah muncul di kepala.. Moga bisa segera terealisasi.. Amiin..